Drama
Remaja
M. Raudah Jambak,
S. Pd
PELAJARAN MEMAAFKAN
PERLAHAN MUSIK SAYUP-SAYUP TERDENGAR. BERSAMAAN DENGAN ITU LAMPU MENYALA. DI TENGAH-TENGAH PANGGUNG
SESEORANG SEDANG DUDUK DI KURSI. KEMUDIAN PERLAHAN BERDIRI DAN MENGHADAP KE
ARAH PENONTON.
Dongdong : (Sikap berdiri
menghadap ke penonton) Bapak-bapak, Ibu-ibu yang kami hormati.terimakasih atas
ke datangannya. Kali ini kami akan mempersembahkan sebuah drama yang
tentunya-tentunya bapak-bapak, ibu-ibu
dan teman-teman, bingung. Ya, bingung. Sebab, kami membuat drama dalam sebuah
drama. Oke (tempo) Bapak-bapak, Ibu-ibu dan teman-teman. Diceritakan...peristiwa ini terjadi pada saat
jam ekstrakurikuler. Saat itu anak-anak sedang sibuk di taman sekolah. Ada yang
membaca. Ada yang bercerita. Ada yang sedang sibuk sendiri. Mereka lalu sibuk
ketika dari kejauhan seseorang datang.
Tingkahnya seperti seorang guru. Andana memberi kode. Bagaimana cerita ini
selanjutnya?! Mari kita saksikan saja. Selamat menyaksikan.
DONGDONG KELUAR. LAMPU PERLAHAN REDUP BEBERAPA SAAT. KEMUDIAN PERLAHAN
KEMBALI HIDUP. DI ATAS PENTAS ANAK-ANAK TERLIHAT SEDANG SIBUK DI TAMAN SEKOLAH.
ADA YANG MEMBACA. ADA YANG BERCERITA. ADA YANG SEDANG SIBUK SENDIRI BELAJAR
DRAMA. MEREKA LALU SIBUK KETIKA DONGDONG
DATANG. TINGKAHNYA SEPERTI SEORANG GURU. ANDANA MEMBERI KODE.
Andana : Ssst, Pak Guru datang
Dongdong : (bergaya seperti Pak
Guru) Selamat pagi, Anak-anak?
Siswa : Selamat pagi, Pak?
Dongdong : Anak-anak, kemarin Bapak memberikan
tugas Bahasa Indonesia membuat pantun, semua sudah mengerjakan?
Siswa : Sudah, Pak….
Dongdong : Andana, coba kamu
bacakan pantun yang kamu buat.
Andana : Iya, Pak. (Membaca) Apa tanda kota
belawan/ Lampu merah sebelah kanan/Apa
tanda kita berkawan/Saling
bantu dalam kesusahan
Dongdong :
Bagus. Kalau kamu Nauval? Sudah siap?
Nauval : Sudah, Pak. Jalan-jalan kegunung
jati/Hati-hati meniti titi/Apa tanda manusia sejati/
Bila berjanji harus ditepati
Dongdong : Sekarang giliranmu, Thariq......
Thariq : Baik, Pak. Awas tertusuk paku
berkarat/ Paku berkarat disamping papan/ Mau
selamat dunia akherat/
Sholat wajib jangan tinggalkan
Dongdong : Pintar semua. Sekarang kamu, Alvin. Apakah kamu sudah
membuat pantun?
Alvin : Sudahlah, Pak.
Dongdong : Coba kamu bacakan
untuk teman-temanmu…
Alvin : (sambil tersenyum mengejek)
Jalan ke hutan melihat salak /Ada
pula pohon-pohon tua /Ayam jantan terbahak-bahak /Lihat Farah giginya dua....
Siswa : (Tertawa)
Dongdong : Alvin, kamu nggak boleh
seperti itu sama temannya. Kekurangan orang lain itu bukan untuk ditertawakan.
Coba kamu buat pantun yang lain.
Alvin : Iya, Pak....
Dongdong : (senyum-senyum tak
jelas) Ya, sudah. Bapak ke kantor dulu ya.....hehehe (pergi
sambil tertawa ngakak)
SEPENINGGAL
DONGDONG MEREKA TERTAWA. SETELAHNYA MEREKA KEMBALI
SIBUK
DENGAN PERMAINAN MEREKA. KALI INI ADA YANG BERMAIN KERETA-
KERETA
API-AN, ADA YANG BERNYANYI. ADA YANG MENARI. ADA JUGA YANG
MASIH
SIBUK BELAJAR, DLL. PADA SAAT ITU ALVIN, DKK, DIAM-DIAM
MENGGANGGU
FARAH, DKK, YANG SEDANG SIBUK BELAJAR DRAMA.
Farah : (Wajah cemberut) Alvin, kenapa
sih kamu selalu usil? Kenapa
kamu selalu meng
ejek aku? Memangnya
kamu suka kalau diejek?
Alvin :
(tertawa) Aduh…maaf lah, Farah.
Andana :
(Ikut tertawa) Wah, Farah marah, Vin.
Nauval :
(tertawa juga) Wah, bisa gawat kalau Farah marah.
Alvin :
(tertawa) Kamu marah ya, Farah?
Farah : Iya lah. Habis…kamu nakal. Kamu
memang sengaja mengejek aku kan, biar anak-
anak mentertawakan aku.
Alvin :
Wah…jangan marah lah, aku kan cuma bercanda.
Andana : Iya, kan cuma bercanda.
Nauval : Iya, Farah. Alvin kan cuma
becanda kok.
Alvin : Sudahlah, Farah. Eh, katanya marah
itu bisa menghambat pertumbuhan badan lho,
nanti kamu badannya
pendek terus, hahaha…
Farah : Huh! kalian jahat! (Berteriak)
Aku nggak mau cakap lagi sama kalian!
Humaira : (menenangkan) Sudahlah Farah, nggak
usah dipikirin. Alvin kan
memang usil dan nakal. Nanti kalau kita marah, dia malah tambah senang. Kita
diamkan saja anak itu sama kawan-kawannya (mengajak pergi) Yok, kita pergi....
Thariq : Ya, sudahlah, Farah. Orang-orang
seperti itu tidak usah diurusin.
Alvin : Ya, pergi yang jauh. Nanti
dikejar kucing (tertawa meledek).
Andana : Jangan lupa, permisi sama mama,
hahaha....
Nauval : Eee, merajuk ni yeee....hahaha
Thariq : (mendekat) Sekali lagi kalian
bicara.....?!
Alvin : Kenapa? Ha?! Kalau kami sekali lagi bicara kenapa?!
Farah : Sudahlah, Thariq. Kan kamu
sendiri yang bilang orang-orang seperti mereka tidak usah diurusin.
Thariq : Tapi, Farah. Mereka sudah
keterlaluan.
Farah : Sudahlah. Ayo.... kita
belajar lagi.
Humaira :
Ya, Thariq. Sudahlah. Kita tidak akan pernah menang dengan orang-orang
seperti ini.
FARAH, THARIQ DAN
HUMAIRA BELAJAR DRAMA KEMBALI TIDAK MENGHIRAUKAN ALVIN DAN KAWAN-KAWAN YANG MASIH TERUS
TERTAWA.
Alvin :
(mendekati Farah) Rah, nama kamu kok bagus sih. mengeja nama Farah itu
kekmana?”
Farah :
Apa sih, kamu mau mengganggu lagi ya? Beraninya cuma sama anak perempuan…
Alvin :
Yah…aku kan cuma bertanya, mengeja nama Farah itu kekmana. Masak gitu aja
Farah...eh,
marah....
Farah :
Memangnya kenapa sih? (Curiga) Farah ya mengejanya F-A-R-A-H lah!
Alvin : Haaa…kamu itu gimana sih, Rah.
Percuma juara kelas kok belum bisa mengeja
nama sendiri
dengan benar. Farah itu mengejanya Parah. Itu lho kayak pemotong
kayu,
hahaha….
Andana : Itu parang, namanya, hahahaha.....
Alvin : Parang? O, yang di pohon itu, ya, hahaha......
Nauval : Itu, batang. Bukan parang,
hahaha…..
Alvin : O, Batang. Ucapan yang selalu
diletakkan dekat pintu masukkan? Selamat Batang,
hahaha..............
Humaira :
Sudahlah, Alvin, kamu selalu begitu! Bisa nggak sih, sehari tanpa berbuat
nakal?
Lagian kamu cuma
berani nakalin anak perempuan. Dasar!
Thariq : Sudahlah.
Mereka tidak usah kita ladeni.
Alvin : Eh, ada orang
rupanya.
Thariq :
Kamu pikir kami ini apa?! (marah)
Alvin : Nggak, ah.
Kami pikir hari gini kok ada alien, alias makhluk angkasa luar, hahaha...
Humaira : Sudahlah,
yok….
Thariq :
Kali sudah tidak bisa dibiarkan.
Farah : Thariq.
Kamu sahabatku yang paling penyabar. Jangan rusak kesabaranmu dengan
hal-hal sepele seperti ini.
Thariq : Ya, aku
mengerti. (Kepada Alvin) Hei, kalian. Kalau bukan karena Farah. Sudah
habis kalian kubuat.
Alvin :
Terimakasih, Pahlawanku. Terimakasih atas pengampunannya, hahaha....
ALVIN DAN KAWAN-KAWAN TERTAWA TERBAHAK-BAHAK.
FARAH DAN KAWAN-KAWANNYA SEGERA MENYIBUKKAN DIRI DENGAN PELAJARAN. ANAK-ANAK YANG LAIN SEDANG SIBUK JUGA DENGAN KEGIATAN MEREKA. ADA
YANG MEMBACA. ADA YANG BERCERITA. ADA YANG SEDANG MENARI, DLL. MEREKA LALU
SIBUK LAGI KETIKA DONGDONG DATANG LAGI
KALI INI BERGAYA SEPERTI SUTRADARA …..ALVIN, DKK PERGI BEGITU SAJA. DONGDONG MENDATANGI FARAH.
Dongdong : (Bergaya sutradara)
Hei, Farah. Apakah kamu sudah melatih drama yang akan kita pentaskan nanti?
Farah : (Tersenyum kecut)
Ya, sudah, Dongdong.
Dongdong : (Tersinggung) Eit,
jangan panggil Dongdong. Aku sutradara, panggil aku Pak
Sutradara, mengerti?!
Farah : (menahan geli)
Mmmengerti, Pppak Sutradara....
Dongdong : Bagus. Sebagai ibu,
siapa....?
Humaira : Saya, Pak Sutra....
Dongdong : Mantap. Jadi Bapak?!
Thariq : Aku, Pak Dara.....
Dongdong : Bagus. Bagus. Tetapi,
lain kali memanggil saya jangan sepotong-sepotong oke.
Serentak : Ya, Pak Sutradara
Dongdong.....
Dongdong : Bagus. Bagus.
Sekarang setanbai.....
MEREKA SEGARA MEMPERSIAPKAN DIRI DENGAN SETTING SEADANYA. DONGDONG SIBUK
MENGATUR.
Dongdong : (Memberi aba-aba)
Oke, .....eksen!...
Humaira :
(Sikap seorang ibu) Sudah jam berapa ini, Nak? Ayo cepat. Nanti kamu
terlambat....
Farah : Malas, Ma....
Humaira :
Lho, Anak Mama. Kamu tidak boleh bicara seperti itu.
Farah : Farah malas
sekolah hari ini, Ma.
Humaira :
Kamu tidak biasanya seperti ini. Biasanya kamu selalu bersemangat jika hendak
berangkat ke sekolah. Ayo, cerita ke
Mama. Ada apa sebenarnya?
Farah : (menggeleng)
Humaira :
O, Mama mengerti. Kamu belum dapat uang jajan dari Papa, ya?
Farah : (menggeleng)
Humaira :
Jadi apa, sayang? Kamu belum siap PR, ya? Sudahlah biara Mama telpon gurumu...
Farah : (menggeleng)
Humaira :
Dimarahi Ibu Guru ya, di sekolah? Atau, Hm, Mama tahu kamu berekelahi dengan
temanmu
kan?
Farah : Alvin, Ma?
Humaira :
Alvin?
Dongdong : (memberi aba-aba
berhenti) Kat.... Tunggu dulu kenapa nama tokohnya jadi
Alvin?!
Thariq : Biar lebih
menghayati Pak Sutradara Dongdong...
Dongdong : O, begitu?!
Thariq : Ya, Begitu...
Dongdong : Oke....setanbiye.
Eksen !
Humaira :
Dimarahi Ibu Guru ya, di sekolah? Atau, Hm, Mama tahu kamu berekelahi dengan
temanmu kan?
Farah : Alvin, Ma?
Humaira :
Alvin?
Farah : (mengangguk)
Humaira : Teman sekelasmu?
Farah : (mengangguk)
Humaira : Hm, anak mama. Sudah mulai hm, hm ya...
Dongdong : Kat….! Drama kita
tidak boleh ada hm hmnya. Kita masih di bawah umur. Ngerti!?
Thariq : Ini tidak hm hm
yang Pak Sutradara Dongdong maksud…
Dongdong : Jadi, ini hm hm yang
mana…
Thariq : Pokoknya tidak
ada…. Lagi pula kitakan belum pernah jadi orangtua kita nggak
ngerti hm hm itu, ya kan
teman-teman? (Farah dan Humaira hnaya mengangguk)
Dongdong : O, begitu?! Lanjut.
Eksen….!
Humaira :
Alvin?
Farah : (mengangguk)
Humaira : Teman sekelasmu?
Farah : (mengangguk)
Humaira : Hm, anak Mama. Sudah mulai hm, hm ya...
Farah : Iiih, Mama.
Farah masih kecil tahu. Farah masih mau belajar….
Humaira : Jadi apa, Sayang? Mama nggak ngerti kalau kamu nggak cerita
ke Mama. Ayolah...
Farah : (menggeleng)
Humaira : Berarti kamu mengganggu Alvin, ya?
Farah : Alvin yang
mengganggu Farah (menangis)
Humaira : Lho, anak Mama. Kok ditanya malah
menangis?
Farah : Alvin yang
mengganggu Farah, Ma (menangis)
Humaira : Ya, tapi kamu
jangan menangis. Sudah. Tuh, cantiknya bisa hilang lho. Eh, anak
Mama. Cepat
berangkat ke sekolah ditungguin Papa tuh...
FARAH MASIH MENANGIS. BU ASTUTI BERUSAHA MEMBUJUKNYA. PADA SAAT ITU PAPA
MASUK.
Thariq : Aduh, Anak Papa.
Ditungguin kok masih di sini? Lho, Anak Papa kenapa
menangis? Kenapa, Ma?
Humaira :
Biasa, Pa. Anak-anak. Farah
nggak mau sekolah. Malas katanya.
Thariq : Aduh, Anak Papa. Kalau
nggak sekolah, cantiknya bisa berkurang lho.
Farah :
Biarin...
Humaira :
Sayang, Mama. Nggak boleh bicara seperti itu sama Papa, ya....
Thariq : Ada apa sebenarnya,
Ma?
Humaira :
Ini lho, Pa. Katanya Farah
digangguin sama temannya. Siapa namanya, Sayang?
Farah :
Alvin...
Humaira :
Ya, Alvin...
Thariq : Mungkin kamu buat
salah?
Farah :
Alvin yang salah, Papa?! (menangis)
Humaira :
Papa...
Thariq : Ya, sudah. Nanti Papa beritahu guru kamu....
Farah :
Jangan...
Humaira :
Atau ke Mama Alvin
Farah :
Jangan....
Humaira :
Kenapa, Sayang?
Farah :
Nanti Alvin Nakalin Farah lagi?
Thariq : Jangan kuatir. Papa
akan membujuk Alvin supaya nggak nakal lagi ke kamu,
Sayang.
Farah :
Benar, Pa?
Thariq : Iya, Sayang...
Farah :
Papa janji?
Thariq : Papa janji...
Humaira :
Nah, sekarang jangan menangis lagi, ya. Ayo berangkat ke sekolah. Nanti kamu
terlambat.
Thariq : Ayo...
Humaira :
Sayang. Bilang apa?
Farah :
Farah ke sekolah, Ma (cium tangan) Assalammualaikum…
Thariq : Papa pergi dulu ya,
Ma. Assalammualaikum…
Humaira :
Ya, Pa. Waalaikummussalam…..
Dongdong :
(langsung memotong) Kat…. !
Serentak :
(kecewa) Yah, kok dikat, Dongdong….
Dongdong :
Pak Sutradara Dongdong….
Serentak :
Ya, Pak Sutradara Dongdong. Kenapa dikat !?
Dongdong :
Menurut saya kelen sudah bagus….hehehe….saya pigi dulu….wkwkwkwk (pergi)
DONGDONG BERLALU DENGAN GAYA KHAS SUTRADARANYA.
SEPENINGGAL DONGDONG, ALVIN DAN
KAWAN-KAWANNYA MASUK. FARAH DKK, SIBUK MEMBAHAS ADEGAN MEREKA TADI. TIBA-TIBA DI BELAKANG MEREKA TERDENGAR
SUARA PASUKAN BARIS BERBARIS, ALVIN DKK, DATANG.
Alvin :
Hoi…minggir…minggir…. Pangeran Alvin yang ganteng ini mau lewat. Rakyat
jelata diharap
minggir.
Farah :
Hei hati-hati…
FARAH, HUMAIRA DAN THARIQ CUMA MENOLEH KESAL.
ALVIN MELEWATI MEREKA DENGAN TERTAWA KERAS. TAHU-TAHU…GUBRAK! KARENA KURANG HATI-HATI, KAKI
ALVIN TERPELESET KARENA MENABRAK SESUATU
YANG ADA DI JALAN.
Humaira :
Rasain kamu! (berteriak). Makanya kalau berjalan itu hati-hati. Lihat ke depan.
Thariq :
Hore....Makhluk alien jatuh.....
Farah :
Iya. Makanya kalau sama anak
perempuan jangan suka nakal. Sekarang kamu kena
batunya.….
Alvin :
Aduh…tolong dong. Aku nggak bisa bangun nih?
Humaira : Ngapain ditolong. Dia kan suka nggangguin
kita. Biar tahu rasa
sekarang. Lagian,
paling dia cuma
pura-pura. Nanti kita dikerjain lagi.…
Alvin : Aduh…aku nggak pura-pura. Kakiku sakit sekali,(merintih) aku janji nggak
akan
ngerjain kalian lagi.
Farah :
Ditolong yuk, Humaira …
Humaira :
Tapi…
Farah :
Sudahlah, kita kan nggak boleh dendam sama orang lain. Bagaimanapun, Alvin kan
teman kita juga.….
HUMAIRA
MENGANGGUK. KEDUA ANAK ITU LALU MENDEKATI ALVIN. ALVIN KESAKITAN....
Farah :
Apanya yang sakit, Vin?
Alvin :
(Meringis kesakitan) Aduh…kakiku sakit sekali. Aku nggak kuat berdiri nih.
Farah :
Gini aja Humaira, kamu ke sekolah cari Pak Yan yang jaga sekolah. Pak Yan kan
punya kendaraan bermotor.
Nanti Alvin biar diantar pulang sama Pak Yan.
Sekarang aku di sini
menemai Alvin!
Humaira :
Ide yang bagus ….
HUMAIRA SEMANGAT.
IA SEGERA BERJALAN CEPAT-CEPAT MENUJU KE TEMPAT PENJAGA SEKOLAH YANG MASIH
KELIHATAN DARI TEMPAT ITU.
Alvin :
Farah…(lirih) Maafkan aku ya. Aku sering nggangguin kamu, Humaira, Thariq,
dan teman-teman yang
lain.
Farah :
Makanya kamu jangan suka ngerjain orang, apalagi mengolok-olok kekurangan
mereka. Jangan suka
meremehkan anak perempuan. Nyatanya, kamu membutuhkan
mereka
juga kan?
Alvin :
Iya lah, aku janji nggak akan ngerjain kalian lagi.
Farah :
Lagian kalau kamu nggak nakal, sahabatmu
pasti tambah banyak. Juga, punya
banyak sahabat itu
menyenangkan kok. Kalau mereka ulang tahun kan kita jadi
sering ditraktir,
hihihi….
TIDAK BERAPA LAMA DONGDONG DATANG LAGI. KALI INI
GAYANYA SEPERTI KEPALA SEKOLAH.
Dongdong :
(Berlagak Kepala Sekolah) Kamu lagi. Kamu lagi.
Alvin : E, anu, Dongdong...
Dongdong : (Menghardik) Bapak Kepala
Sekolah. Panggil begitu. Mengerti!!
Alvin : Tapi, ....
Dongdong : Tidak ada tapi...tapi... mengerti!?
Alvin : Ya, Dong...eh, Bapak Kepala Sekolah Dongdong....
Dongdong : Nah,
begitu. (Melihat ke Farah) Kamu tidak apa-apa, Farah....
Farah :
Maaf, Pak. Saya tidak apa-apa....
Dongdong :
Benar?
Farah :
Benar, Pak....
Tidak
berapa lama Humaira dan Thariq kembali.
Humaira :
Pak Yan, sakit.
Thariq : Sudah kita gotong aja....
Dongdong : Ada apa...
Humaira :
Alvin jatuh dari sepeda, Dong...
Thariq :
Iya, Dong....
Dongdong : Bapak
Kepala Sekolah Dongdong. Ngerti! (Humaira dan Thariq mengangguk)
Bukannya Alvin yang nakal sama kalian...
Thariq :
Awalnya, ya, Pak....
Humaira : Tapi, Alvin sudah minta maaf kok, Pak…
Dongdong :
Betul itu, Alvin?
Alvin :
Iya, Dong, eh...Pak....
Dongdong : Kamu
Andana, Nauval?
Andana :
Saya juga, Pak...
Nauval : Saya menyesal, Pak....
Dongdong :
Syukurlah. Lebih baik berteman daripada bermusuhan, ya?!
Semua :
Ya, Bapak Kepala Sekolah Dongdong......
PERLAHAN MUSIK SAYUP-SAYUP PELAN. BERSAMAAN
DENGAN ITU LAMPU PERLAHAN REDUP. DI TENGAH-TENGAH
PANGGUNG SESEORANG SEDANG DUDUK DI KURSI. LAMPU KEMUDIAN PADAM.
SELESAI
Komunitas
Home Poetry, 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar