Sabtu, 09 Januari 2016

PILIHAN NASKAH FTP 2016 JUDUL PELAJARAN MEMAAFKAN KARYA M. RAUDAH JAMBAK



Drama Remaja
M. Raudah Jambak, S. Pd

PELAJARAN MEMAAFKAN

PERLAHAN MUSIK SAYUP-SAYUP TERDENGAR. BERSAMAAN DENGAN  ITU LAMPU MENYALA. DI TENGAH-TENGAH PANGGUNG SESEORANG SEDANG DUDUK DI KURSI. KEMUDIAN PERLAHAN BERDIRI DAN MENGHADAP KE ARAH PENONTON.

Dongdong       : (Sikap berdiri menghadap ke penonton) Bapak-bapak, Ibu-ibu yang kami hormati.terimakasih atas ke datangannya. Kali ini kami akan mempersembahkan sebuah drama yang tentunya-tentunya  bapak-bapak, ibu-ibu dan teman-teman, bingung. Ya, bingung. Sebab, kami membuat drama dalam sebuah drama. Oke (tempo) Bapak-bapak, Ibu-ibu dan teman-teman.  Diceritakan...peristiwa ini terjadi pada saat jam ekstrakurikuler. Saat itu anak-anak sedang sibuk di taman sekolah. Ada yang membaca. Ada yang bercerita. Ada yang sedang sibuk sendiri. Mereka lalu sibuk ketika dari kejauhan seseorang  datang. Tingkahnya seperti seorang guru. Andana memberi kode. Bagaimana cerita ini selanjutnya?! Mari kita saksikan saja. Selamat menyaksikan.

DONGDONG KELUAR. LAMPU PERLAHAN REDUP BEBERAPA SAAT. KEMUDIAN PERLAHAN KEMBALI HIDUP. DI ATAS PENTAS ANAK-ANAK TERLIHAT SEDANG SIBUK DI TAMAN SEKOLAH. ADA YANG MEMBACA. ADA YANG BERCERITA. ADA YANG SEDANG SIBUK SENDIRI BELAJAR DRAMA. MEREKA LALU SIBUK KETIKA DONGDONG  DATANG. TINGKAHNYA SEPERTI SEORANG GURU. ANDANA MEMBERI KODE.  

Andana           : Ssst, Pak Guru datang
Dongdong       : (bergaya seperti Pak Guru) Selamat pagi, Anak-anak?
Siswa               : Selamat pagi, Pak?
Dongdong       : Anak-anak, kemarin Bapak memberikan tugas Bahasa Indonesia membuat pantun, semua sudah mengerjakan?
Siswa               : Sudah, Pak….
Dongdong       : Andana, coba kamu bacakan pantun yang kamu buat.
Andana           : Iya, Pak. (Membaca) Apa tanda kota belawan/ Lampu merah sebelah kanan/Apa
                          tanda kita berkawan/Saling bantu dalam kesusahan

Dongdong       : Bagus. Kalau kamu Nauval? Sudah siap?

Nauval             : Sudah, Pak. Jalan-jalan kegunung jati/Hati-hati meniti titi/Apa tanda manusia sejati/
                          Bila berjanji harus ditepati

Dongdong       : Sekarang giliranmu, Thariq......

Thariq              : Baik, Pak. Awas tertusuk paku berkarat/ Paku berkarat disamping papan/ Mau         
                          selamat dunia akherat/ Sholat wajib jangan tinggalkan

Dongdong       : Pintar semua. Sekarang kamu, Alvin. Apakah kamu sudah membuat pantun?
Alvin               : Sudahlah, Pak.
Dongdong       : Coba kamu bacakan untuk teman-temanmu…
Alvin               : (sambil tersenyum mengejek) Jalan ke hutan melihat salak /Ada pula pohon-pohon tua /Ayam jantan terbahak-bahak /Lihat Farah giginya dua....
Siswa               : (Tertawa)
Dongdong       : Alvin, kamu nggak boleh seperti itu sama temannya. Kekurangan orang lain itu bukan untuk ditertawakan. Coba kamu buat pantun yang lain.

Alvin               : Iya, Pak....
Dongdong       : (senyum-senyum tak jelas) Ya, sudah. Bapak ke kantor dulu ya.....hehehe (pergi
sambil tertawa ngakak)

SEPENINGGAL DONGDONG MEREKA TERTAWA. SETELAHNYA MEREKA KEMBALI
SIBUK DENGAN PERMAINAN MEREKA. KALI INI ADA YANG BERMAIN KERETA-
KERETA API-AN, ADA YANG BERNYANYI. ADA YANG MENARI. ADA JUGA YANG
MASIH SIBUK BELAJAR, DLL. PADA SAAT ITU ALVIN, DKK,  DIAM-DIAM
MENGGANGGU FARAH, DKK, YANG SEDANG SIBUK BELAJAR DRAMA.

Farah               : (Wajah cemberut) Alvin, kenapa sih kamu selalu usil? Kenapa kamu selalu meng
                          ejek aku? Memangnya kamu suka kalau diejek?
Alvin               : (tertawa)  Aduh…maaf lah, Farah.
Andana           : (Ikut tertawa) Wah, Farah marah, Vin.
Nauval             : (tertawa juga) Wah, bisa gawat kalau Farah marah.
Alvin               : (tertawa) Kamu marah ya, Farah?
Farah               : Iya lah. Habis…kamu nakal. Kamu memang sengaja mengejek aku kan, biar anak-
                          anak  mentertawakan aku.
Alvin               : Wah…jangan marah lah, aku kan cuma bercanda.
Andana           : Iya, kan cuma bercanda.
Nauval            : Iya, Farah. Alvin kan cuma becanda kok.
Alvin               : Sudahlah, Farah. Eh, katanya marah itu bisa menghambat pertumbuhan badan lho,
                          nanti kamu badannya pendek terus, hahaha…
Farah               : Huh! kalian jahat! (Berteriak) Aku nggak mau cakap lagi sama kalian!
Humaira       : (menenangkan) Sudahlah Farah, nggak usah dipikirin. Alvin kan memang usil dan nakal. Nanti kalau kita marah, dia malah tambah senang. Kita diamkan saja anak itu sama kawan-kawannya (mengajak pergi) Yok, kita pergi....
Thariq             : Ya, sudahlah, Farah. Orang-orang seperti itu tidak usah diurusin.
Alvin               : Ya, pergi yang jauh. Nanti dikejar kucing (tertawa meledek).
Andana           : Jangan lupa, permisi sama mama, hahaha....
Nauval            : Eee, merajuk ni yeee....hahaha
Thariq             : (mendekat) Sekali lagi kalian bicara.....?!
Alvin               : Kenapa? Ha?! Kalau kami sekali lagi bicara kenapa?!
Farah            : Sudahlah, Thariq. Kan kamu sendiri yang bilang orang-orang seperti mereka tidak usah diurusin.
Thariq              : Tapi, Farah. Mereka sudah keterlaluan.
Farah                : Sudahlah. Ayo.... kita belajar lagi.
Humaira          :  Ya, Thariq. Sudahlah. Kita tidak akan pernah menang dengan orang-orang seperti ini.
FARAH, THARIQ DAN HUMAIRA BELAJAR DRAMA KEMBALI TIDAK MENGHIRAUKAN  ALVIN DAN KAWAN-KAWAN YANG MASIH TERUS TERTAWA.

Alvin               : (mendekati Farah) Rah, nama kamu kok bagus sih. mengeja nama Farah itu
                          kekmana?”
Farah               : Apa sih, kamu mau mengganggu lagi ya? Beraninya cuma sama anak perempuan…
Alvin               : Yah…aku kan cuma bertanya, mengeja nama Farah itu kekmana. Masak gitu aja
                           Farah...eh, marah....
Farah               : Memangnya kenapa sih? (Curiga) Farah ya mengejanya F-A-R-A-H lah!
Alvin               : Haaa…kamu itu gimana sih, Rah. Percuma juara kelas kok belum bisa mengeja
nama sendiri dengan benar. Farah itu mengejanya Parah. Itu lho kayak pemotong
kayu, hahaha….
Andana           : Itu parang, namanya, hahahaha.....
Alvin               : Parang? O, yang di pohon itu, ya, hahaha......
Nauval             : Itu, batang. Bukan parang, hahaha…..
Alvin               : O, Batang. Ucapan yang selalu diletakkan dekat pintu masukkan? Selamat Batang,
                          hahaha..............
Humaira          : Sudahlah, Alvin, kamu selalu begitu! Bisa nggak sih, sehari tanpa berbuat nakal?
                          Lagian kamu cuma berani nakalin anak perempuan. Dasar!                        
Thariq              : Sudahlah. Mereka tidak usah kita ladeni.
Alvin               : Eh, ada orang rupanya.
Thariq              : Kamu pikir kami ini apa?! (marah)
Alvin               : Nggak, ah. Kami pikir hari gini kok ada alien, alias makhluk angkasa luar, hahaha...   
Humaira          : Sudahlah, yok….
Thariq              : Kali sudah tidak bisa dibiarkan.
Farah               : Thariq. Kamu sahabatku yang paling penyabar. Jangan rusak kesabaranmu dengan
                           hal-hal sepele seperti ini.
Thariq              : Ya, aku mengerti. (Kepada Alvin) Hei, kalian. Kalau bukan karena Farah. Sudah
                           habis kalian kubuat.
Alvin               : Terimakasih, Pahlawanku. Terimakasih atas pengampunannya, hahaha....

ALVIN DAN KAWAN-KAWAN TERTAWA TERBAHAK-BAHAK. FARAH DAN KAWAN-KAWANNYA SEGERA MENYIBUKKAN DIRI DENGAN PELAJARAN. ANAK-ANAK YANG LAIN SEDANG SIBUK JUGA DENGAN KEGIATAN MEREKA. ADA YANG MEMBACA. ADA YANG BERCERITA. ADA YANG SEDANG MENARI, DLL. MEREKA LALU SIBUK LAGI KETIKA DONGDONG  DATANG LAGI KALI INI BERGAYA SEPERTI SUTRADARA …..ALVIN, DKK PERGI BEGITU SAJA. DONGDONG MENDATANGI FARAH.

Dongdong       : (Bergaya sutradara) Hei, Farah. Apakah kamu sudah melatih drama yang akan kita pentaskan nanti?
Farah               : (Tersenyum kecut) Ya, sudah, Dongdong.
Dongdong       : (Tersinggung) Eit, jangan panggil Dongdong. Aku sutradara, panggil aku Pak
                          Sutradara, mengerti?!
Farah               : (menahan geli) Mmmengerti, Pppak Sutradara....
Dongdong       : Bagus. Sebagai ibu, siapa....?
Humaira          : Saya, Pak Sutra....
Dongdong       : Mantap. Jadi Bapak?!
Thariq              :  Aku, Pak Dara.....
Dongdong       : Bagus. Bagus. Tetapi, lain kali memanggil saya jangan sepotong-sepotong oke.
Serentak          : Ya, Pak Sutradara Dongdong.....
Dongdong       : Bagus. Bagus. Sekarang setanbai.....

MEREKA SEGARA MEMPERSIAPKAN DIRI DENGAN SETTING SEADANYA. DONGDONG SIBUK MENGATUR.

Dongdong       : (Memberi aba-aba) Oke, .....eksen!...
Humaira          : (Sikap seorang ibu) Sudah jam berapa ini, Nak? Ayo cepat. Nanti kamu
                           terlambat....
Farah               : Malas, Ma....
Humaira          : Lho, Anak Mama. Kamu tidak boleh bicara seperti itu.
Farah               : Farah malas sekolah hari ini, Ma.
Humaira          : Kamu tidak biasanya seperti ini. Biasanya kamu selalu bersemangat jika hendak
                           berangkat ke sekolah. Ayo, cerita ke Mama. Ada apa sebenarnya? 
Farah               : (menggeleng)
Humaira          : O, Mama mengerti. Kamu belum dapat uang jajan dari Papa, ya?
Farah               : (menggeleng)
Humaira          : Jadi apa, sayang? Kamu belum siap PR, ya? Sudahlah biara Mama telpon gurumu...
Farah               : (menggeleng)
Humaira          : Dimarahi Ibu Guru ya, di sekolah? Atau, Hm, Mama tahu kamu berekelahi dengan
                          temanmu kan?
Farah               : Alvin, Ma?
Humaira          : Alvin?
Dongdong       : (memberi aba-aba berhenti) Kat.... Tunggu dulu kenapa nama tokohnya jadi
                           Alvin?!
Thariq              : Biar lebih menghayati Pak Sutradara Dongdong...
Dongdong       : O, begitu?!
Thariq              : Ya, Begitu...
Dongdong       : Oke....setanbiye. Eksen !
Humaira          : Dimarahi Ibu Guru ya, di sekolah? Atau, Hm, Mama tahu kamu berekelahi dengan
                          temanmu kan?
Farah               : Alvin, Ma?
Humaira          : Alvin?
Farah               : (mengangguk)
Humaira          : Teman sekelasmu?
Farah               : (mengangguk)
Humaira          : Hm, anak mama. Sudah mulai hm, hm ya...
Dongdong       : Kat….! Drama kita tidak boleh ada hm hmnya. Kita masih di bawah umur. Ngerti!?
Thariq              : Ini tidak hm hm yang Pak Sutradara Dongdong maksud…
Dongdong       : Jadi, ini hm hm yang mana…
Thariq              : Pokoknya tidak ada…. Lagi pula kitakan belum pernah jadi orangtua kita nggak
                          ngerti hm hm itu, ya kan teman-teman? (Farah dan Humaira hnaya mengangguk)
Dongdong       : O, begitu?! Lanjut. Eksen….!
Humaira          : Alvin?
Farah               : (mengangguk)
Humaira          : Teman sekelasmu?
Farah               : (mengangguk)
Humaira          : Hm, anak Mama. Sudah mulai hm, hm ya...
Farah               : Iiih, Mama. Farah masih kecil tahu. Farah masih mau belajar….
Humaira          : Jadi apa, Sayang? Mama nggak ngerti kalau kamu nggak cerita ke Mama. Ayolah...
Farah               : (menggeleng)
Humaira          : Berarti kamu mengganggu Alvin, ya?
Farah               : Alvin yang mengganggu Farah (menangis)
Humaira          : Lho, anak Mama. Kok ditanya malah menangis?
Farah               : Alvin yang mengganggu Farah, Ma (menangis)
Humaira          : Ya, tapi kamu jangan menangis. Sudah. Tuh, cantiknya bisa hilang lho. Eh, anak
                          Mama. Cepat berangkat ke sekolah ditungguin Papa tuh...

FARAH MASIH MENANGIS. BU ASTUTI BERUSAHA MEMBUJUKNYA. PADA SAAT ITU PAPA MASUK.

Thariq              : Aduh, Anak Papa. Ditungguin kok masih di sini? Lho, Anak Papa kenapa
                          menangis? Kenapa, Ma?
Humaira          : Biasa, Pa. Anak-anak. Farah nggak mau sekolah. Malas katanya.
Thariq              : Aduh, Anak Papa. Kalau nggak sekolah, cantiknya bisa berkurang lho.
Farah               : Biarin...
Humaira          : Sayang, Mama. Nggak boleh bicara seperti itu sama Papa, ya....
Thariq              : Ada apa sebenarnya, Ma?
Humaira          : Ini lho, Pa. Katanya Farah digangguin sama temannya. Siapa namanya, Sayang?
Farah               : Alvin...
Humaira          : Ya, Alvin...
Thariq              : Mungkin kamu buat salah?
Farah               : Alvin yang salah, Papa?! (menangis)
Humaira          : Papa...
Thariq              : Ya, sudah. Nanti Papa beritahu guru kamu....
Farah               : Jangan...
Humaira          : Atau ke Mama Alvin
Farah               : Jangan....
Humaira          : Kenapa, Sayang?
Farah               : Nanti Alvin Nakalin Farah lagi?
Thariq              : Jangan kuatir. Papa akan membujuk Alvin supaya nggak nakal lagi ke kamu,
                          Sayang.  
Farah               : Benar, Pa?
Thariq              : Iya, Sayang...
Farah               : Papa janji?
Thariq              : Papa janji...
Humaira          : Nah, sekarang jangan menangis lagi, ya. Ayo berangkat ke sekolah. Nanti kamu
                           terlambat.
Thariq              : Ayo...
Humaira          : Sayang. Bilang apa?
Farah               : Farah ke sekolah, Ma (cium tangan) Assalammualaikum…
Thariq              : Papa pergi dulu ya, Ma. Assalammualaikum…
Humaira          : Ya, Pa. Waalaikummussalam…..
Dongdong       : (langsung memotong) Kat…. !
Serentak          : (kecewa) Yah, kok dikat, Dongdong….
Dongdong       : Pak Sutradara Dongdong….
Serentak          : Ya, Pak Sutradara Dongdong. Kenapa dikat !?
Dongdong       : Menurut saya kelen sudah bagus….hehehe….saya pigi dulu….wkwkwkwk (pergi)

DONGDONG BERLALU DENGAN GAYA KHAS SUTRADARANYA. SEPENINGGAL DONGDONG,  ALVIN DAN KAWAN-KAWANNYA MASUK. FARAH DKK, SIBUK MEMBAHAS ADEGAN MEREKA TADI. TIBA-TIBA DI BELAKANG MEREKA TERDENGAR SUARA PASUKAN BARIS BERBARIS, ALVIN DKK, DATANG.

Alvin               : Hoi…minggir…minggir…. Pangeran Alvin yang ganteng ini mau lewat. Rakyat
                          jelata diharap minggir.
Farah               : Hei hati-hati…

FARAH, HUMAIRA DAN THARIQ CUMA MENOLEH KESAL. ALVIN MELEWATI MEREKA DENGAN TERTAWA KERAS. TAHU-TAHU…GUBRAK! KARENA KURANG HATI-HATI, KAKI ALVIN TERPELESET KARENA MENABRAK SESUATU  YANG ADA DI  JALAN.

Humaira          : Rasain kamu! (berteriak). Makanya kalau berjalan  itu hati-hati. Lihat ke depan.
Thariq              : Hore....Makhluk alien jatuh.....
Farah               : Iya. Makanya kalau sama anak perempuan jangan suka nakal. Sekarang kamu kena
                          batunya.….
Alvin               : Aduh…tolong dong. Aku nggak bisa bangun nih?
Humaira          : Ngapain ditolong. Dia kan suka nggangguin kita. Biar tahu rasa sekarang. Lagian,
                           paling dia cuma pura-pura. Nanti kita dikerjain lagi.…
Alvin               : Aduh…aku nggak pura-pura. Kakiku sakit sekali,(merintih) aku janji nggak akan
                          ngerjain kalian lagi.
Farah               : Ditolong yuk, Humaira …
Humaira          : Tapi
Farah               : Sudahlah, kita kan nggak boleh dendam sama orang lain. Bagaimanapun, Alvin kan
                          teman kita juga.….

HUMAIRA MENGANGGUK. KEDUA ANAK ITU LALU MENDEKATI ALVIN. ALVIN KESAKITAN....

Farah               :  Apanya yang sakit, Vin?
Alvin               : (Meringis kesakitan) Aduh…kakiku sakit sekali. Aku nggak kuat berdiri nih.
Farah               : Gini aja Humaira, kamu ke sekolah cari Pak Yan yang jaga sekolah. Pak Yan kan
                          punya kendaraan bermotor. Nanti Alvin biar diantar pulang sama Pak Yan.
                          Sekarang aku di sini menemai Alvin!
Humaira          : Ide yang bagus ….

HUMAIRA SEMANGAT. IA SEGERA BERJALAN CEPAT-CEPAT MENUJU KE TEMPAT PENJAGA SEKOLAH YANG MASIH KELIHATAN DARI TEMPAT ITU.


Alvin               : Farah…(lirih) Maafkan aku ya. Aku sering nggangguin kamu, Humaira, Thariq,
                          dan teman-teman yang lain.
Farah               : Makanya kamu jangan suka ngerjain orang, apalagi mengolok-olok kekurangan
                          mereka. Jangan suka meremehkan anak perempuan. Nyatanya, kamu membutuhkan
                          mereka juga kan?
Alvin               : Iya lah, aku janji nggak akan ngerjain kalian lagi.
Farah               : Lagian  kalau kamu nggak nakal, sahabatmu pasti tambah banyak. Juga, punya
                          banyak sahabat itu menyenangkan kok. Kalau mereka ulang tahun kan kita jadi
                          sering ditraktir, hihihi….

TIDAK BERAPA LAMA DONGDONG DATANG LAGI. KALI INI GAYANYA SEPERTI KEPALA SEKOLAH.

Dongdong       : (Berlagak Kepala Sekolah) Kamu lagi. Kamu lagi.
Alvin               : E, anu, Dongdong...
Dongdong       : (Menghardik) Bapak Kepala Sekolah. Panggil begitu. Mengerti!!
Alvin               : Tapi, ....
Dongdong       : Tidak ada tapi...tapi... mengerti!?
Alvin               : Ya, Dong...eh, Bapak Kepala Sekolah Dongdong....
Dongdong       : Nah, begitu. (Melihat ke Farah) Kamu tidak apa-apa, Farah....
Farah               : Maaf, Pak. Saya tidak apa-apa....
Dongdong       : Benar?
Farah               : Benar, Pak....
Tidak berapa lama Humaira dan Thariq kembali.
Humaira          : Pak Yan, sakit.
Thariq              : Sudah kita gotong aja....
Dongdong       : Ada apa...
Humaira          : Alvin jatuh dari sepeda, Dong...
Thariq              : Iya, Dong....
Dongdong       : Bapak Kepala Sekolah Dongdong. Ngerti! (Humaira dan Thariq mengangguk)
                          Bukannya Alvin yang nakal sama kalian...
Thariq              : Awalnya, ya, Pak....
Humaira          :  Tapi, Alvin sudah minta maaf kok, Pak…
Dongdong       : Betul itu, Alvin?
Alvin               : Iya, Dong, eh...Pak....
Dongdong       : Kamu Andana, Nauval?
Andana           : Saya juga, Pak...
Nauval             : Saya menyesal, Pak....
Dongdong       : Syukurlah. Lebih baik berteman daripada bermusuhan, ya?!
Semua             : Ya, Bapak Kepala Sekolah Dongdong......

PERLAHAN MUSIK SAYUP-SAYUP PELAN. BERSAMAAN DENGAN  ITU LAMPU PERLAHAN REDUP. DI TENGAH-TENGAH PANGGUNG SESEORANG SEDANG DUDUK DI KURSI. LAMPU KEMUDIAN PADAM.

SELESAI

Komunitas Home Poetry, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar