Sabtu, 09 Januari 2016

PILIHAN NASKAH FTP 2016 JUDUL AYAH TAK PULANG KARYA AFRION



AYAH TAK PULANG
Naskah AFRION


SETTING DALAM RUMAH.
DI SUDUT KIRI PERSIS SEBELAH PINTU KAMAR, HANYA ADA SATU DIPAN UKIRAN TIGA KAKI. DAN SATU MEJA KECIL YANG DIAPIT TIGA BUAH KURSI, BERADA DISEBELAH KANAN  BERDEKATAN DENGAN PINTU BELAKANG. LALU SATU BUAH JENDELA BERADA PERSIS DI SAMPING PINTU KELUAR.

NIKO BERDIRI SEPERTI PATUNG MENGHADAP JENDELA. BERDIRI SEPERTI ORANG YANG SEDANG KEBINGUNGAN.

MINARTI
Masih mau terus berdiri kau,  Dek? Apa gak capek!

NIKO HANYA MENOLEHKAN KEPALANYA, SEKEDAR MELIHAT MINARTI YANG SEDANG MENYAPU RUANGAN DAN MERAPIKAN BARANG-BARANG YANG BERSERAKAN.

MINARTI
Dari kemarin dan dari kemarin-kemarinya lagi, kerjamu cuma berdiri saja disitu, Dek. Sekali-sekali duduk kek, jalan kek, atau apalah gitu. Supaya tidak dibilang orang kau itu patung atau orang sinting gitu.

NIKO MENOLEHKAN LAGI KEPALANYA, LALU BERGERAK MELANGKAH KE KURSI. BEBERAPA SAAT DUDUK DI KURSI, NIKO MELANGKAH KE DIPAN. LALU MEREBAHKAN TUBUHNYA DI ATAS DIPAN.

NIKO
Kapan ayah pulang, Kak!

MINARTI
Kapan ayah pulang…? Hmm…. Kalau ayah tak pulang cemana!

NIKO
Kalau ayah tak pulang, aku tak sekolah.

MINARTI
Terus kalau kau tak sekolah, Dek. Mau jadi apa?
Terus kalau ayah tak pulang-pulang, Apa kau juga tak sekolah-sekolah.

NIKO TERDIAM. SPONTAN DIA BERDIRI LALU MELANGKAH KE JENDELA.  NIKO BERDIRI LAGI SEPERTI PATUNG MENGHADAP JENDELA.

NIKO
Mungkin betul apa yang dikatakan paman.

MINARTI
Memangnya, paman bilang apa.

NIKO
Sejak ibu meninggal, tingkah laku ayah berubah.
Ayah kemana rupanya, Kak…! Kok sudah lebih sebulan gak pulang-pulang.

MINARTI
Sudahlah, Dek. Kakak juga tidak tahu dimana ayah sekarang. Paman juga sudah berusaha, tapikan tetap tidak ada orang yang mengetahuinya. Sebaiknya kita tetap berdoa, semoga Tuhan memberi perlindungan dan semoga ayah cepat pulang.

DARI LUAR TERDENGAR SUARA ORANG-ORANG BERLARI SAMBIL BERTERIAK MALING-MALING. MINARTI BERGEGAS KELUAR SEMENTARA NIKO TETAP BERDIRI DI JENDELA MENGHADAP KELUAR.

SUARA DARI LUAR RUMAH
Maling….maling..  ayo kepung dia…hei! kalian cari kesana..! kalian cari ke sebalah sana. Tadi aku lihat dia ke halaman rumah ini. Maling itu pasti berada di sekitar sini. Ayo cepat cari dan Jangan biarkan maling itu lolos. Hajar dia …! Kalau dapat Hajar terus..!

MINARTI
(HANYA SUARANYA SAJA TERDENGAR DARI LUAR RUMAH)
Heh…! Apa-apaan kalian ini. Enak aja main masuk-masuk ke rumah orang. Disini gak ada maling.. ya… Ayo sana…! Pergi sana…! Keluar..! ayo keluar…!

SUARA DARI LUAR RUMAH
Tadi kulihat malingnya masuk kesini, kak…! Pasti dia sembunyi di sekitar sini…!

MINARTI
(HANYA SUARANYA SAJA TERDENGAR DARI LUAR RUMAH)
Heh…! Jangan asal tuduh ya… jangan teriak-teriak ya… jangan-jangan kau ya… malingnya.
Maling teriak maling. Ayo sana ..! pergi sana….!

SUARA DARI LUAR RUMAH
Ayo kita cari ke sebelah sana….! Payah kakak ini, orang teriak maling kok malah kita yang dituduh maling…

BEBERAPA SAAT SUASANA HENING. SEORANG ANAK LAKI-LAKI YANG TADI DITERIAKI MALING MERANGKAK MASUK KE DALAM RUMAH SAMBIL MENGADUH KESAKITAN. WAJAHNYA BABAK BELUR BERDARAH-DARAH. SEMENTARA MINARTI MENGIKUTINYA DARI BELAKANG.

MINARTI
Makanya jangan jadi maling…! Untung aja kau tidak mati dipukuli orang-orang sekampung.

ANAK LAKI-LAKI
Aku tidak maling, Kak. Orang-orang itunya yang teriak maling-maling.

MINARTI
Kalo tidak maling masak dipukuli, ngaku aja… kalo pun kau memang maling… tidak akan aku pukuli kau, paling kusuruh kembalikan barangnya dan minta maaf.

NIKO
Kak..! kak..! maling kok dibawa masuk ke dalam rumah. Usir aja dia keluar, kak..!
Heh…! Maling kau ya…! Maling…! Maling…!....Maling…

MINARTI
Diam Niko…! Diam…! jangan teriak-teriak…! Nanti kalo orang-orang kampung itu datang kesini gimana.

NIKO
Biar aja…! Biar mampus dia.

ANAK LAKI-LAKI
Sumpah, Kak..! Aku tidak maling. Aku tidak maling, Kak….. aku tidak maling.

MINARTI
Itu bungkusan yang ditangan kau itu apa…! Sini … coba kulihat…!
Kalo gak maling masak diteriakin maling.

ANAK LAKI-LAKI
Ini radio kak..! ini radio mamak, ini radio mau dijual…!

MINARTI
Coba kulihat…! Jangan-jangan benar kau memang maling.!

ANAK LAKI-LAKI
Tidak, Kak..! Aku tidak maling. Radio ini disuruh mamak jual untuk biaya beli obat ayah.

NIKO
Apa…? Ayah…? Jual radio untuk beli obat ayah..?

ANAK LAKI-LAKI
Iya… ayahku sakit. Hidup kami susah, jualan mamak tidak laku, jadi tidak ada uang untuk beli obat. Nah..! kalau kakak mau, belilah radio ini untuk beli obat ayahku, demi ayahku.

ANAK LAKI-LAKI ITU MENYERAHKAN BUNGKUSAN KE MINARTI. LALU MINARTI PERLAHAN-LAHAN MENGELUARKAN RADIO ITU DARI DALAM BUNGKUSAN.  KEMUDIAN RADIO ITU COBA DIHIDUPKAN MINARTI HINGGA TERDENGAR SUARA LAGU DARI RADIO.

MINARTI
Radio ini masih bagus. Sakit apa rupanya ayah kau. Kenapa sampai harus menjual radio.

ANAK LAKI-LAKI
Tidak ada uang mamak, Kak. Tidak ada uang mamak membawa ayah ke rumah sakit. Tolonglah kakak beli radio itu. Atau tolonglah kakak jualkan. Aku jadi takut menjualkannya.
Aku takut diteriakin maling lagi sama orang-orang itu.
NIKO
Kenapa kau lari…! kalau kau lari …! itu artinya benar-benar maling…!

ANAK LAKI-LAKI
Kalau aku tidak lari, aku pasti sudah mati dipukuli.

NIKO
Aneh kau ini, mau jual radio pergilah ke pasar loak.. jangan pergi ke kampong orang.

ANAK LAKI-LAKI
Aku bingung… lagi pula aku tidak tahu jalan ke pasar loak.

MINARTI
Memangnya mau kau jual berapa radionya…! Apa ada surat-suratnya…apa ada kuwitansinya atau surat jual beli tandanya radio ini bukan barang curian.

ANAK LAKI-LAKI
Ada kak…! Di dalam bungkusan itu ada kuwitansi pembeliannya kak.

MINARTI
Berapa mau kau jual.

ANAK LAKI-LAKI
Tiga ratus ribu aja, Kak.

DARI LUAR TERDENGAR LAGI SUARA ORANG-ORANG BERTERIAK MALING-MALING. BEBERAPA ORANG YANG BERTERIAK-TERIAK ITU MASUK KE DALAM RUMAH MINARTI.

ORANG SATU
Nah..! itu dia malingnya…! Maling…. Maling… 
Hei…! Disini malingnya…! Maling….Maling…

ORANG DUA
Mau lari kemana lagi kau hah…! Mau sembunyi dimana kau..! ketangkap kau sekarang.

ORANG TIGA
Dasar maling kau ya…! Bikin capek orang aja kau..!

MINARTI
Heh..! diam kalian semuanya….! Enak aja nuduh – nuduh orang maling. Kalian jangan asal teriak ya…! Lihat dulu…! Pastikan dulu…! Apa kalian tidak kasihan melihatnya, lihat itu mukanya berdarah-darah kalian pukuli…!

ORANG SATU
Nah..! itu dia radionya…!

ORANG DUA
Masih tidak mau ngaku ya..!

ORANG TIGA
Kau maling dimana radio itu hah…! Keparat…!

MINARTI
Heh..! ini radio siapa rupanya..! inikah memang radio punya dia.. lihat ini ada surat-suratnya.

ORANG SATU
Alah tipu aja itu kak..! mana ada maling yang mau ngaku …!

ORANG DUA
Iya…! Lagi pula kalau cuma surat bisa di karang- karang…. Bisa dibuat-buat

ORANG TIGA
Kalau kau mau aman, ya sudah ngaku aja…!

NIKO MENGAMBIL PARANG YANG TERSELIP DI DINDING RUMAH. LALU MENDEKATI ANAK LAKI-LAKI ITU SAMBIL MENGACUNGKAN PARANGNYA KE ATAS

NIKO
Sekali lagi kalian teriak-teriak di rumahku ini, kubacok kalian semua. Selangkah saja kalian maju mendekati dia kubacok kalian semua. Kuhitung sampai sepuluh, kalau kalian tidak keluar dari rumah ini, kubacok kalian semua. Satu….. Dua….. Tiga…..

ORANG SATU
Tenang, NiK …! Jangan emosi kau..! letakkan parang itu.

ORANG DUA
Kami kemari tidak cari ngaduh, Nik. Kami cuma mau nangkap maling.

ORANG TIGA
Ya….Nik. di antara kitakan tidak ada masalah. Sebaiknya kita bicarakan baik baik.

NIKO
Empat…… lima…… enam…..  keluar kalian cepat.

ORANG SATU
Oke, NiK …! Oke…oke..! tapi letakkan parang itu dulu.

ORANG DUA
Begini saja, Nik…! supaya kita sama-sama senang, supaya tidak ada rasa curiga, bagaimana kalau kita minta dia menjelaskan soal radio itu sebenarnya.

ORANG TIGA
Ya….Nik. sebenarnya radio itu dia punya atau siapa punya, terus kenapa dibungkus.

NIKO
Kalau begitu baiklah…! Sekarang kalian dengarlah baik-baik penjelasannya.


MINARTI
Heh…! Ini surat-surat pembelian radio dari toko elektronik Sumber Maju Jalan Diponegoro nomor 23 A. Dibeli tahun 2014 seharga lima ratus lima puluh ribu atas nama pemiliknya  Sugeng Projo, tinggal di kampong Lalang pasar VII. Lingkungan VIII. Siapa ini Sugeng Projo

ANAK LAKI-LAKI
Itu nama ayahku, kalau kalian tidak percaya datanglah ke rumahku. Sekarang ayahku lagi sakit. Kami tidak punya uang untuk berobat ayah, makanya radio itu harus kami jual.

NIKO
Sudah jelas sekarangkan, setelah ayahnya sakit tak bisa beli obat, sekarang kalian pukuli pula dia sampai babak belur gitu, sampai wajahnya itu berdarah-darah.

ORANG SATU
Waduh…! Celaka kita ini..! siapa tadi yang mulai teriak maling-maling.

ORANG DUA
Ya itulah.. si tukang bakso itu…!

ORANG TIGA
Ya….tukang bakso itu yang mulai…! Dia  teriak maling-maling.. begitu kita kejar malingnya eh.. malah dia melenggang pergi bawa gerobak baksonya itu.

NIKO
Makanya pakai otak kalau mau bertindak, jangan pakai cara-cara preman. Sekarang kalian semua yang teriak-teriak maling tadi itu harus tanggungjawab.

ORANG SATU
Tanggungjawab gimana maksudnya, Nik.

ORANG DUA
Lagi pulakan kita tidak tahu cerita sebenarnya.

ORANG TIGA
Ya kalau begitu, kami minta maaflah atas semua kejadian ini.

MINARTI
Wah…. Mana bisa minta maaf gitu aja, kalian harus menanggung biaya perobatannya. Lihat  wajahnya yang berdarah itu.

ORANG SATU
Berarti harus semuanyalah yang tanggung biayanya

ORANG DUA
Ya, termasuk si tukang bakso itu, juga harus tanggungjawab.

ORANG TIGA
Aku mana punya uang kalau nanggung biayanya.


MINARTI
Sekarang kalian rogoh kantong masing-masing… keluarkan semuanya uang kalian.

ORANG SATU
(MEROGOH KANTONGNYA DAN MENGELUARKAN DOMPET)
Uangku memang ada lima ratus ribu, tapi tidak mungkinlah kukasi semuanya.

ORANG DUA
(MEROGOH KANTONGNYA DAN MENGELUARKAN DOMPET)
Uangku cuma segini, itupun dari hasil pinjaman tadi dari si Dito.

ORANG TIGA
(MEROGOH KANTONGNYA)
Aku juga… paling yang ada lima puluh ribu.

MINARTI
Udah kasih semuanya. Jangan ada yang disisakan. Terus kalian cari lagi orang orang yang tadi teriak-teriak maling itu. Minta uang ganti ruginya sama mereka semua, cepat.

ORANG SATU
(BURU-BURU KELUAR RUANGAN)
Ya, kak.

ORANG DUA
Kenak batunya kita sekarang.

ORANG TIGA
Oh.. nasib…nasib.

NIKO
Cepat jalannya… jangan pake mencla mencle…! Dasar preman kampungan. Gak ada otaknya. Sekarang rasakan akibatnya, itulah resikonya kalau asal tuduh orang.

ANAK LAKI LAKI
Kalau begitu aku permisi pulang. Terima kasih telah melindungi dan membantu biaya perobatan.

MINARTI
Nanti saja kau pulang setelah keadaan aman. Sekarang bersihkan dulu luka-luka kau itu.
(BICARA KEPADA NIKO)
Dek, bantulah dia membersihkan lukanya itu. 

NIKO
Ya kak. Sebaiknya kau mandi baru luka-lukanya diobati. Ayok kita ke belakang.

NIKO MEMAPAH ANAK LAKI-LAKI ITU MASUK KE RUANG BELAKANG. TAK LAMA KEMUDIAN NIKO MUNCUL , BERJALAN MENDEKATI JENDELA. BERDIRI MENGHADAP KELUAR.


MINARTI
Dari tadi kau terus saja berdiri di jendela itu, Dek. Masih menunggu ayah pulang ya.
jangan harap ayah pulang. Karena ayah tidak akan pernah pulang, Dek.

NIKO
Maksud kakak…?

MINARTI
Ya itu tadi, ayah tak pulang.

NIKO
Kalau ayah tak pulang, maka aku akan berhenti sekolah, Kak.

MINARTI
Gila kau, Dek. Kalo kau tak sekolah, mau jadi apa kau nanti..! mau jadi pengangguran, atau mau jadi preman seperti anak-anak muda itu tadi.

NIKO
Aku tidak mau menyusahkan paman, Kak.

MINARTI
Apa hubungannya sekolah dengan paman.

NIKO
Aku tidak mau paman terus menerus menanggung beban. Biarlah aku cari kerja saja, Kak.

MINARTI
Kau harus sekolah, Niko. Kau itu anak laki-laki. Dengan sekolahlah kau akan dapat kerja yang layak dan gaji yang layak pula.

NIKO
Kakak masih juga tidak mengerti perasaanku, pikiranku kacau. Kakak senang ya melihat ayah tidak pulang-pulang, tidak tahu kabar beritanya, dan tidak tahu pula sebab-sebabnya.  Kenapa ayah tidak pulang, kenapa..!  Atau kakak telah mengusir ayah ya.. dari rumah ini…!

MINARTI
Niko…! Jangan bicara yang tidak-tidak kau, Dek. Mana mungkin kakak mengusir ayah. Kakak pun tidak tahu mau kemana lagi mencari ayah, dan bahkan paman juga tidak tahu, mau kemana mencari ayah.

NIKO
Sudah lebih sebulan, Kak. Ayah pergi meninggalkan kita.

MINARTI
Sabar Dek. Sabar. Ini hanya cobaan dalam keluarga kita. Dengan kesabaran, berarti kita harus tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Orang yang sabar hatinya akan teguh dan terus berusaha mencari jalan keluar dari segala cobaan.


NIKO
Berarti masih ada harapan ayah pulang.

MINARTI
Entahlah, Dek. Kakak juga tidak tahu kemana dan dimana ayah sebenarnya.

ANAK LAKI-LAKI MUNCUL DARI PINTU BELAKANG. KEMUDIAN MELANGKAH RAGU-RAGU MENDEKATI MINARTI.

ANAK LAKI-LAKI
Maaf, Kak. Aku tidak bermaksud mendengar. Aku hanya mau pamit pulang. Terima kasih, Kak. Terima kasih telah membantuku.

MINARTI
Astaga…! Lupa aku kalau kau masih di dalam.

ANAK LAKI-LAKI
Ya kak. Aku pamit pulang. Bang Niko, aku pamit, Bang.
Aku telah berutang budi sama Kakak dan bang Niko.

MINARTI
Ya… sudahlah, pulanglah. Gunakanlah uang itu untuk membeli obat ayahmu. Bawa pulang kembali radionya.
(BICARA KEPADA NIKO) Niko.. temanilah dia sampai ke tempat yang aman. Lewat jalan besar aja..ya..

ANAK LAKI-LAKI
Aku pulang Ya kak.

MINARTI
Ya… hati-hati ya. Teruslah pulang. Jangan kemana-mana lagi.

ANAK LAKI-LAKI MENYALAMI MINARTI. KEMUDIAN MELANGKAH KELUAR. SEDANGKAN NIKO MENGIKUTI DARI BELAKANG.

PANDANGAN MINARTI BERALIH KE BINGKAI FOTO YANG MENEMPEL DI DINDING. LALU MERAIH BINGKAI FOTO ITU. MELEKATKAN BINGKAI FOTO ITU KE DADANYA.

MINARTI
Ayah…berilah kami tanda-tanda dimana ayah berada. Karena sampai saat ini kami tidak tahu kemana ayah pergi, makanya kami pun tidak tahu dimana lagi kami harus mencari. Pulanglah ayah.. pulanglah… pulanglah.


MINARTI MEMELUK BINGKAI FOTO ITU DENGAN ERAT. IA LEKATKAN KEDADANYA.

PANGGUNG GELAP PERTUNJUKAN PUN BERAKHIR
Medan, 8 Oktober 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar