AYAH
TAK PULANG
Naskah
AFRION
SETTING DALAM RUMAH.
DI SUDUT
KIRI PERSIS SEBELAH PINTU KAMAR, HANYA ADA SATU DIPAN UKIRAN TIGA KAKI. DAN
SATU MEJA KECIL YANG DIAPIT TIGA BUAH KURSI, BERADA DISEBELAH KANAN BERDEKATAN DENGAN PINTU BELAKANG. LALU SATU
BUAH JENDELA BERADA PERSIS DI SAMPING PINTU KELUAR.
NIKO
BERDIRI SEPERTI PATUNG MENGHADAP JENDELA. BERDIRI SEPERTI ORANG YANG SEDANG KEBINGUNGAN.
MINARTI
Masih mau terus berdiri
kau, Dek? Apa gak capek!
NIKO HANYA MENOLEHKAN
KEPALANYA, SEKEDAR MELIHAT MINARTI YANG SEDANG MENYAPU RUANGAN DAN MERAPIKAN
BARANG-BARANG YANG BERSERAKAN.
MINARTI
Dari
kemarin dan dari kemarin-kemarinya lagi, kerjamu cuma berdiri saja disitu, Dek.
Sekali-sekali duduk kek, jalan kek, atau apalah gitu. Supaya tidak dibilang
orang kau itu patung atau orang sinting gitu.
NIKO MENOLEHKAN LAGI
KEPALANYA, LALU BERGERAK MELANGKAH KE KURSI. BEBERAPA SAAT DUDUK DI KURSI, NIKO
MELANGKAH KE DIPAN. LALU MEREBAHKAN TUBUHNYA DI ATAS DIPAN.
NIKO
Kapan ayah pulang, Kak!
MINARTI
Kapan ayah pulang…? Hmm….
Kalau ayah tak pulang cemana!
NIKO
Kalau ayah tak pulang, aku
tak sekolah.
MINARTI
Terus kalau kau tak sekolah,
Dek. Mau jadi apa?
Terus kalau ayah tak
pulang-pulang, Apa kau juga tak sekolah-sekolah.
NIKO TERDIAM. SPONTAN DIA
BERDIRI LALU MELANGKAH KE JENDELA. NIKO
BERDIRI LAGI SEPERTI PATUNG MENGHADAP JENDELA.
NIKO
Mungkin betul apa yang
dikatakan paman.
MINARTI
Memangnya, paman bilang apa.
NIKO
Sejak ibu meninggal, tingkah
laku ayah berubah.
Ayah kemana rupanya, Kak…!
Kok sudah lebih sebulan gak pulang-pulang.
MINARTI
Sudahlah,
Dek. Kakak juga tidak tahu dimana ayah sekarang. Paman juga sudah berusaha,
tapikan tetap tidak ada orang yang mengetahuinya. Sebaiknya kita tetap berdoa,
semoga Tuhan memberi perlindungan dan semoga ayah cepat pulang.
DARI LUAR TERDENGAR SUARA ORANG-ORANG
BERLARI SAMBIL BERTERIAK MALING-MALING. MINARTI BERGEGAS KELUAR SEMENTARA NIKO
TETAP BERDIRI DI JENDELA MENGHADAP KELUAR.
SUARA DARI LUAR RUMAH
Maling….maling.. ayo kepung dia…hei! kalian cari kesana..!
kalian cari ke sebalah sana. Tadi aku lihat dia ke halaman rumah ini. Maling
itu pasti berada di sekitar sini. Ayo cepat cari dan Jangan biarkan maling itu
lolos. Hajar dia …! Kalau dapat Hajar terus..!
MINARTI
(HANYA SUARANYA SAJA TERDENGAR
DARI LUAR RUMAH)
Heh…! Apa-apaan kalian ini.
Enak aja main masuk-masuk ke rumah orang. Disini gak ada maling.. ya… Ayo
sana…! Pergi sana…! Keluar..! ayo keluar…!
SUARA DARI LUAR RUMAH
Tadi kulihat malingnya masuk
kesini, kak…! Pasti dia sembunyi di sekitar sini…!
MINARTI
(HANYA SUARANYA SAJA
TERDENGAR DARI LUAR RUMAH)
Heh…! Jangan asal tuduh ya…
jangan teriak-teriak ya… jangan-jangan kau ya… malingnya.
Maling teriak maling. Ayo
sana ..! pergi sana….!
SUARA DARI LUAR RUMAH
Ayo kita cari ke sebelah
sana….! Payah kakak ini, orang teriak maling kok malah kita yang dituduh
maling…
BEBERAPA
SAAT SUASANA HENING. SEORANG ANAK LAKI-LAKI YANG TADI DITERIAKI MALING
MERANGKAK MASUK KE DALAM RUMAH SAMBIL MENGADUH KESAKITAN. WAJAHNYA BABAK BELUR
BERDARAH-DARAH. SEMENTARA MINARTI MENGIKUTINYA DARI BELAKANG.
MINARTI
Makanya jangan jadi maling…!
Untung aja kau tidak mati dipukuli orang-orang sekampung.
ANAK LAKI-LAKI
Aku tidak maling, Kak.
Orang-orang itunya yang teriak maling-maling.
MINARTI
Kalo tidak maling masak
dipukuli, ngaku aja… kalo pun kau memang maling… tidak akan aku pukuli kau,
paling kusuruh kembalikan barangnya dan minta maaf.
NIKO
Kak..! kak..! maling kok
dibawa masuk ke dalam rumah. Usir aja dia keluar, kak..!
Heh…! Maling kau ya…! Maling…!
Maling…!....Maling…
MINARTI
Diam Niko…! Diam…! jangan
teriak-teriak…! Nanti kalo orang-orang kampung itu datang kesini gimana.
NIKO
Biar aja…! Biar mampus dia.
ANAK LAKI-LAKI
Sumpah, Kak..! Aku tidak
maling. Aku tidak maling, Kak….. aku tidak maling.
MINARTI
Itu bungkusan yang ditangan
kau itu apa…! Sini … coba kulihat…!
Kalo gak maling masak
diteriakin maling.
ANAK LAKI-LAKI
Ini radio kak..! ini radio
mamak, ini radio mau dijual…!
MINARTI
Coba kulihat…! Jangan-jangan
benar kau memang maling.!
ANAK LAKI-LAKI
Tidak, Kak..! Aku tidak
maling. Radio ini disuruh mamak jual untuk biaya beli obat ayah.
NIKO
Apa…? Ayah…? Jual radio untuk
beli obat ayah..?
ANAK LAKI-LAKI
Iya… ayahku sakit. Hidup kami
susah, jualan mamak tidak laku, jadi tidak ada uang untuk beli obat. Nah..!
kalau kakak mau, belilah radio ini untuk beli obat ayahku, demi ayahku.
ANAK
LAKI-LAKI ITU MENYERAHKAN BUNGKUSAN KE MINARTI. LALU MINARTI PERLAHAN-LAHAN
MENGELUARKAN RADIO ITU DARI DALAM BUNGKUSAN.
KEMUDIAN RADIO ITU COBA DIHIDUPKAN MINARTI HINGGA TERDENGAR SUARA LAGU
DARI RADIO.
MINARTI
Radio ini masih bagus. Sakit
apa rupanya ayah kau. Kenapa sampai harus menjual radio.
ANAK LAKI-LAKI
Tidak ada
uang mamak, Kak. Tidak ada uang mamak membawa ayah ke rumah sakit. Tolonglah
kakak beli radio itu. Atau tolonglah kakak jualkan. Aku jadi takut
menjualkannya.
Aku takut
diteriakin maling lagi sama orang-orang itu.
NIKO
Kenapa kau lari…! kalau kau
lari …! itu artinya benar-benar maling…!
ANAK LAKI-LAKI
Kalau aku tidak lari, aku
pasti sudah mati dipukuli.
NIKO
Aneh kau ini, mau jual radio
pergilah ke pasar loak.. jangan pergi ke kampong orang.
ANAK LAKI-LAKI
Aku bingung… lagi pula aku
tidak tahu jalan ke pasar loak.
MINARTI
Memangnya
mau kau jual berapa radionya…! Apa ada surat-suratnya…apa ada kuwitansinya atau
surat jual beli tandanya radio ini bukan barang curian.
ANAK LAKI-LAKI
Ada kak…! Di dalam bungkusan
itu ada kuwitansi pembeliannya kak.
MINARTI
Berapa mau kau jual.
ANAK LAKI-LAKI
Tiga ratus ribu aja, Kak.
DARI LUAR
TERDENGAR LAGI SUARA ORANG-ORANG BERTERIAK MALING-MALING. BEBERAPA ORANG YANG
BERTERIAK-TERIAK ITU MASUK KE DALAM RUMAH MINARTI.
ORANG SATU
Nah..! itu dia malingnya…! Maling….
Maling…
Hei…! Disini malingnya…!
Maling….Maling…
ORANG DUA
Mau lari kemana lagi kau
hah…! Mau sembunyi dimana kau..! ketangkap kau sekarang.
ORANG TIGA
Dasar maling kau ya…! Bikin
capek orang aja kau..!
MINARTI
Heh..! diam kalian
semuanya….! Enak aja nuduh – nuduh orang maling. Kalian jangan asal teriak ya…!
Lihat dulu…! Pastikan dulu…! Apa kalian tidak kasihan melihatnya, lihat itu
mukanya berdarah-darah kalian pukuli…!
ORANG SATU
Nah..! itu dia radionya…!
ORANG DUA
Masih tidak mau ngaku ya..!
ORANG TIGA
Kau maling dimana radio itu
hah…! Keparat…!
MINARTI
Heh..! ini radio siapa
rupanya..! inikah memang radio punya dia.. lihat ini ada surat-suratnya.
ORANG SATU
Alah tipu aja itu kak..! mana
ada maling yang mau ngaku …!
ORANG DUA
Iya…! Lagi pula kalau cuma
surat bisa di karang- karang…. Bisa dibuat-buat
ORANG TIGA
Kalau kau mau aman, ya sudah
ngaku aja…!
NIKO MENGAMBIL PARANG YANG
TERSELIP DI DINDING RUMAH. LALU MENDEKATI ANAK LAKI-LAKI ITU SAMBIL
MENGACUNGKAN PARANGNYA KE ATAS
NIKO
Sekali lagi kalian teriak-teriak
di rumahku ini, kubacok kalian semua. Selangkah saja kalian maju mendekati dia
kubacok kalian semua. Kuhitung sampai sepuluh, kalau kalian tidak keluar dari
rumah ini, kubacok kalian semua. Satu….. Dua….. Tiga…..
ORANG SATU
Tenang, NiK …! Jangan emosi
kau..! letakkan parang itu.
ORANG DUA
Kami kemari tidak cari
ngaduh, Nik. Kami cuma mau nangkap maling.
ORANG TIGA
Ya….Nik. di antara kitakan
tidak ada masalah. Sebaiknya kita bicarakan baik baik.
NIKO
Empat…… lima…… enam….. keluar kalian cepat.
ORANG SATU
Oke, NiK …! Oke…oke..! tapi
letakkan parang itu dulu.
ORANG DUA
Begini saja, Nik…! supaya
kita sama-sama senang, supaya tidak ada rasa curiga, bagaimana kalau kita minta
dia menjelaskan soal radio itu sebenarnya.
ORANG TIGA
Ya….Nik. sebenarnya radio itu
dia punya atau siapa punya, terus kenapa dibungkus.
NIKO
Kalau begitu baiklah…!
Sekarang kalian dengarlah baik-baik penjelasannya.
MINARTI
Heh…! Ini surat-surat
pembelian radio dari toko elektronik Sumber Maju Jalan Diponegoro nomor 23 A. Dibeli
tahun 2014 seharga lima ratus lima puluh ribu atas nama pemiliknya Sugeng Projo, tinggal di kampong Lalang pasar
VII. Lingkungan VIII. Siapa ini Sugeng Projo
ANAK LAKI-LAKI
Itu nama ayahku, kalau kalian
tidak percaya datanglah ke rumahku. Sekarang ayahku lagi sakit. Kami tidak
punya uang untuk berobat ayah, makanya radio itu harus kami jual.
NIKO
Sudah jelas sekarangkan,
setelah ayahnya sakit tak bisa beli obat, sekarang kalian pukuli pula dia
sampai babak belur gitu, sampai wajahnya itu berdarah-darah.
ORANG SATU
Waduh…! Celaka kita ini..!
siapa tadi yang mulai teriak maling-maling.
ORANG DUA
Ya itulah.. si tukang bakso
itu…!
ORANG TIGA
Ya….tukang bakso itu yang
mulai…! Dia teriak maling-maling..
begitu kita kejar malingnya eh.. malah dia melenggang pergi bawa gerobak
baksonya itu.
NIKO
Makanya pakai otak kalau mau
bertindak, jangan pakai cara-cara preman. Sekarang kalian semua yang
teriak-teriak maling tadi itu harus tanggungjawab.
ORANG SATU
Tanggungjawab gimana
maksudnya, Nik.
ORANG DUA
Lagi pulakan kita tidak tahu
cerita sebenarnya.
ORANG TIGA
Ya kalau begitu, kami minta
maaflah atas semua kejadian ini.
MINARTI
Wah…. Mana bisa minta maaf
gitu aja, kalian harus menanggung biaya perobatannya. Lihat wajahnya yang berdarah itu.
ORANG SATU
Berarti harus semuanyalah
yang tanggung biayanya
ORANG DUA
Ya, termasuk si tukang bakso
itu, juga harus tanggungjawab.
ORANG TIGA
Aku mana punya uang kalau
nanggung biayanya.
MINARTI
Sekarang kalian rogoh kantong
masing-masing… keluarkan semuanya uang kalian.
ORANG SATU
(MEROGOH KANTONGNYA DAN
MENGELUARKAN DOMPET)
Uangku memang ada lima ratus
ribu, tapi tidak mungkinlah kukasi semuanya.
ORANG DUA
(MEROGOH KANTONGNYA DAN
MENGELUARKAN DOMPET)
Uangku cuma segini, itupun
dari hasil pinjaman tadi dari si Dito.
ORANG TIGA
(MEROGOH KANTONGNYA)
Aku juga… paling yang ada
lima puluh ribu.
MINARTI
Udah kasih semuanya. Jangan
ada yang disisakan. Terus kalian cari lagi orang orang yang tadi teriak-teriak
maling itu. Minta uang ganti ruginya sama mereka semua, cepat.
ORANG SATU
(BURU-BURU KELUAR RUANGAN)
Ya, kak.
ORANG DUA
Kenak batunya kita sekarang.
ORANG TIGA
Oh.. nasib…nasib.
NIKO
Cepat jalannya… jangan pake
mencla mencle…! Dasar preman kampungan. Gak ada otaknya. Sekarang rasakan
akibatnya, itulah resikonya kalau asal tuduh orang.
ANAK LAKI LAKI
Kalau begitu aku permisi
pulang. Terima kasih telah melindungi dan membantu biaya perobatan.
MINARTI
Nanti saja kau pulang setelah
keadaan aman. Sekarang bersihkan dulu luka-luka kau itu.
(BICARA KEPADA NIKO)
Dek, bantulah dia
membersihkan lukanya itu.
NIKO
Ya kak. Sebaiknya kau mandi
baru luka-lukanya diobati. Ayok kita ke belakang.
NIKO MEMAPAH ANAK LAKI-LAKI
ITU MASUK KE RUANG BELAKANG. TAK LAMA KEMUDIAN NIKO MUNCUL , BERJALAN MENDEKATI
JENDELA. BERDIRI MENGHADAP KELUAR.
MINARTI
Dari tadi kau terus saja
berdiri di jendela itu, Dek. Masih menunggu ayah pulang ya.
jangan harap ayah pulang.
Karena ayah tidak akan pernah pulang, Dek.
NIKO
Maksud kakak…?
MINARTI
Ya itu tadi, ayah tak pulang.
NIKO
Kalau ayah tak pulang, maka
aku akan berhenti sekolah, Kak.
MINARTI
Gila kau, Dek. Kalo kau tak
sekolah, mau jadi apa kau nanti..! mau jadi pengangguran, atau mau jadi preman
seperti anak-anak muda itu tadi.
NIKO
Aku tidak mau menyusahkan
paman, Kak.
MINARTI
Apa hubungannya sekolah
dengan paman.
NIKO
Aku tidak mau paman terus
menerus menanggung beban. Biarlah aku cari kerja saja, Kak.
MINARTI
Kau harus sekolah, Niko. Kau
itu anak laki-laki. Dengan sekolahlah kau akan dapat kerja yang layak dan gaji
yang layak pula.
NIKO
Kakak masih juga tidak
mengerti perasaanku, pikiranku kacau. Kakak senang ya melihat ayah tidak
pulang-pulang, tidak tahu kabar beritanya, dan tidak tahu pula sebab-sebabnya. Kenapa ayah tidak pulang, kenapa..! Atau kakak telah mengusir ayah ya.. dari
rumah ini…!
MINARTI
Niko…!
Jangan bicara yang tidak-tidak kau, Dek. Mana mungkin kakak mengusir ayah.
Kakak pun tidak tahu mau kemana lagi mencari ayah, dan bahkan paman juga tidak
tahu, mau kemana mencari ayah.
NIKO
Sudah
lebih sebulan, Kak. Ayah pergi meninggalkan kita.
MINARTI
Sabar Dek.
Sabar. Ini hanya cobaan dalam keluarga kita. Dengan kesabaran, berarti kita
harus tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Orang yang sabar hatinya
akan teguh dan terus berusaha mencari jalan keluar dari segala cobaan.
NIKO
Berarti masih ada harapan ayah
pulang.
MINARTI
Entahlah, Dek. Kakak juga
tidak tahu kemana dan dimana ayah sebenarnya.
ANAK LAKI-LAKI MUNCUL DARI
PINTU BELAKANG. KEMUDIAN MELANGKAH RAGU-RAGU MENDEKATI MINARTI.
ANAK LAKI-LAKI
Maaf, Kak. Aku tidak
bermaksud mendengar. Aku hanya mau pamit pulang. Terima kasih, Kak. Terima
kasih telah membantuku.
MINARTI
Astaga…! Lupa aku kalau kau
masih di dalam.
ANAK LAKI-LAKI
Ya kak. Aku pamit pulang.
Bang Niko, aku pamit, Bang.
Aku telah berutang budi sama
Kakak dan bang Niko.
MINARTI
Ya… sudahlah, pulanglah.
Gunakanlah uang itu untuk membeli obat ayahmu. Bawa pulang kembali radionya.
(BICARA KEPADA NIKO) Niko.. temanilah
dia sampai ke tempat yang aman. Lewat jalan besar aja..ya..
ANAK LAKI-LAKI
Aku pulang Ya kak.
MINARTI
Ya… hati-hati ya. Teruslah
pulang. Jangan kemana-mana lagi.
ANAK LAKI-LAKI MENYALAMI
MINARTI. KEMUDIAN MELANGKAH KELUAR. SEDANGKAN NIKO MENGIKUTI DARI BELAKANG.
PANDANGAN MINARTI BERALIH KE
BINGKAI FOTO YANG MENEMPEL DI DINDING. LALU MERAIH BINGKAI FOTO ITU. MELEKATKAN
BINGKAI FOTO ITU KE DADANYA.
MINARTI
Ayah…berilah
kami tanda-tanda dimana ayah berada. Karena sampai saat ini kami tidak tahu
kemana ayah pergi, makanya kami pun tidak tahu dimana lagi kami harus mencari.
Pulanglah ayah.. pulanglah… pulanglah.
MINARTI
MEMELUK BINGKAI FOTO ITU DENGAN ERAT. IA LEKATKAN KEDADANYA.
PANGGUNG
GELAP PERTUNJUKAN PUN BERAKHIR
Medan,
8 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar