Selasa, 12 Januari 2016

PILIHAN NASKAH FTP 2016 JUDUL INDAHNYA PERSAHABATAN KARYA M. RAUDAH JAMBAK















































NASKAH DRAMA REMAJA
INDAHNYA PERSAHABATAN
M. RAUDAH JAMBAK

Siang itu sepulangnya Irma dari sekolah dia kemudian mengajak Sandi untuk berkunjung kerumah Yoga. Yoga tidak masuk sekolah, namun tidak ada surat izin sakit.

Irma:
Sandi, kita main ke rumah Yoga yuuk!

Sandi:
Rupanya kamu mau ngapai ke rumahnya si Yoga?

Irma:
Kan tadi dia tidak masuk sekolah, dan dia juga nggak ada ngasih surat izin sama Bu, guru. Jadi, aku mau tahu dia tu kenapa kok nggak masuk sekolah.

Sandi:
Oh gitu.. ya sudah, ayukk.

Irma dan Sandi lantas bergegas kerumahnya Yoga untuk mencari tahu apakah temannya tersebut sakit atau kenapa. Tapi, begitu hendak bergerak Irma dan Sandi melihat Yoga sedang mengutip sampah dan memasukkan ke karung goni yang sedang dipanggulnya. Segera saja mereka menyapa. Yoga terkejut dan hendak melarikan diri.

Irma :
(Berteriak) Yoga, tunggu…..

Sandi :
(Berteriak) Kami mau bicara….

Yoga:
(Berhenti sambil menatap mereka satu persatu dengan curiga) Eh.. kalian.. ada apa?! Kok , tumben kalian mau bicara padaku?

Irma :
(Ragu) Aaa, maaf, Ga. Sebenarnya kami mau ke rumahmu. Tapi, kami bingung di mana rumahmu?

Sandi :
(Mendekati Yoga) Iya, Ga. Nggak papakan….?

Yoga:
(Sinis) Kok , tumben kalian mau ke rumahku?

Irma:
Aaa anu, Ga, kami hanya ingin tau kenapa kamu tadi tidak masuk sekolah? Kamu juga nggak buat surat izin, itu kan bolos namanya?!

Sandi:
Iya, Ga.. memangnya Kamu kemana? Aku pikir kamu lagi sakit, tapi ini aku lihat kamu juga baik-baik aja.

Yoga:
Oh.. maaf, aku memang nggak sakit kok. Aku tu tadi bangunnya kesiangan, masak aku mau pergi sekolah orang bangunku aja sudah jam 9-an.

Irma:
Memangnya kamu abis darimana kok sampai kesiangan?

Yoga:
Semalam aku abis main dari rumah temanku. Saking asyiknya sama mereka, aku lupa kalau udah jam 4 pagi. Dah  itu aku pulang, dan jam 5 aku langsung tidur.

Sandi:
Kamu main sampe jam segitu?! Gila kamu, Ga. Harusnya kamu tu kan mikir kalau paginya kamu harus masuk sekolah. Cemana kamu nggak kesiangan kalau tidurnya aja jam 5.

Irma:
Yoga, kamu lain kali nggak boleh kayak anak kecil. Ingat, kamu harus fokus sama pelajaran. Main sih boleh aja, tapi kamu kan harus tidur tepat waktu supaya nggak bangun kesiangan?!

Yoga terdiam. Matanya sepertinya berkaca-kaca. Irma dan Sandi saling pandang. Mereka cemas. Tetapi, mereka ragu ingin menanyakan lebih lanjut. Pandangan mereka terus berganti antara mata Yoga yang tengah berkaca-kaca dan karung goni yang dipanggulnya.

Yoga :
(Berpaling sambil menghapus air matanya) Sebaiknya kelen pulang aja…

Irma/Sandi :
Tapi, Ga….?

Yoga :
(Berteriak) Pulang….kataku! Ngerti kelen nggak….!!!!!

Irma/Sandi :
Ga…..

Yoga:
(Berteriak makin keras) Pigi kelen! Pigi!!!!

Irma :
Kami sahabatmu, Ga. Nggak kami nggak mau pigi sebelum kami tau persoalan yang sebenarnya.

Sandi:
Iya, Ga. Demi sahabat kami, kami tidak perduli apa yang terjadi dengan kami….

Yoga berteriak sekuat-kuatnya mengusir kedua sahabatnya. Irma dan Sandi tak bergeming. Yoga semakin menjadi, ia lempari kedua sahabatnya dengan sampah bekas air mineral yang ada dari dalam karung goninya. Mulutnya terus teriak mengusir Irma dan Sandi. Sampai pada puncaknya Yoga mengancam dengan alat pengait sampah yang ujungnya terbuat dari besi runcing yang tajam.

Yoga :
(Sambil menahan amarah) Mau pigi atau kelen harus terima apa yang akan terjadi….(mengacungkan alat pengait sampah)

Mata Yoga memerah. Irma dan Sandi masih tidak beranjak. Setiap kali Yoga meminta mereka pergi, Irma dan Sandi tetap menggeleng menyatakan tidak mau beranjak dari tempat itu. Bersamaan itu terdengar dari kejauhan suara musik gitar Ilham, si anak pengamen. Yoga segera membereskan sampah yang berserakan dan memasukkannya kembali ke karung goni. Tidak lama kemudian, Ilham (teman Yoga) datang.

Ilham :
(Bersiul-siul kecil lalu senyum-senyum tak jelas)

Yoga:
Eh, kamu Ham,, ada apa?

Ilham:
Dicariin kemana-mana nggak ketemu. Rupanya di sini ente, bro….

Yoga:
(Pura-pura membereskan barangnya) Iya, ada apa ham…

Ilham :
(Menatap tajam sekaligus heran ke Yoga lalu ke Irma dan Sandi) Eh, bro. Kenapa, Ente?

Yoga:
(Segera mengelap air matanya yang sempat menetes) Nggak apa-apa…..

Ilham:
(Matanya liar menatap ke Irma dan Sandi) Diapain orang ini ko….(Mendekati Irma dan Sandi yang mulai ketakutan)

Yoga:
(Segera menghalangi langkah Ilham) Jangan… Orang ni nggak ngapa-ngapain. Orang ini mo bantu aku membereskan barang-barangku yang sempat terserak tadi.

Ilham :
Jadi, kau kok nangis?!

Yoga:
Aku tadi terpeleset, jatuh….


Ilham:
Ooo, gitunya. Kau nggak papakan. (Yoga menggeleng) Syukurlah. (Merangkul Yoga) Eh.. aku mau ngajak kau main-main, cemana?!. Kau nggak lagi ada acara kan?

Yoga:
Nggak ada, memangnya mau kemana ko ajak aku?

Belum sempat Ilham menjawab, Irma pun lantas menyaut dan menasehati si Ilham supaya tidak suka mengajak Yoga main-main.

Sandi :
Tunggu, Ga. Jangan main-main dulu. Kami mo bicara….

Irma :
Iya, Ga…

Ilham :
(Naik darahnya) Eh, kelen tu siapa? Enak-enak aja melarang orang. Nggak sor kelen ya. Bilang mo dimana?! Ha… Di sini Juga boleh (Yoga segera menahan Ilham sambil member isyarat agar Irma dan Sandi pergi)

Sandi :
(Memberanikan diri) Kami sahabat Yoga, terus ko mo apa?!

Ilham :
(Semakin naik pitam) Yah, nantang kelen ya. Dua-dua kelen maju….(Yoga kembali menahan Ilham dan menyuruh Irma dan Sandi agar segera pergi).

Sandi :
Sekali lagi kami bilang. Kami sahabatnya, terus ko siapa?!

Ilham :
(Wajahnya memerah) Aku kawannya. Kenapa rupanya?! Nggak sor kelen?! Maju! Dua-duanya kalau perlu…. Maju!?

Irma:
Ooo jadi, kau temannya Yoga?

Ilham:
Ya iyalah, memang kenapa rupanya ha!?

Irma:
Ya, udah. Tapi, kalau kau tu temannya Yoga yang baik, kau mestinya punya rasa peduli sama dia. Kau ingatkan dia, kalau main itu jangan sampai tak kenal waktu. Kalau kalian mainnya sampai tak kenal waktu, alhasil keesokan harinya Yoga nggak masuk sekolah karena bangunnya telat.

Ilham:
Banyak kali cerita kelen…..

Sandi:
Sabar, kawan. Kami bicara ini demi kebaikan sahabat kami….

Ilham :
Apa sabar-sabar!? Lagi pula kelen bukan kawanku…

Irma :
Dengar dulu. Setelah kami becakap kami akan segera pigi. Yoga sahabat kami, sedangkan teman Yoga berarti teman kami….

Ilham :
Sukak kelenlah. (Menenangkan diri) Oke. Kelen kukasi kesempatan becakap. Sesudah itu kuminta kelen segera cabut. Pigi dari tempat ini….(Irma dan Sandi mengangguk setuju) Sekarang, apa yang mo kelen cakapkan….

Sandi:
(Agak berhati-hati bicara) Yoga, sahabat kami ini, sudah tiga hari tidak sekolah…

Irma :
(Memotong) Ya, kami kuatir dia sakit. Makanya, kami mencari alamat rumahnya untuk datang melihatnya….

Sandi :
(Memotong) Akhirnya, nggak sengaja kami jumpa di sini…

Irma:
(Memotong) Ya, kami hampir ditumbuknya….

Sandi :
(Memotong) Ya, untung kau datang…

Irma dan Sandi terdiam. Yoga tertunduk. Ilham melihat ke arah Yoga seolah tak percaya. Irma dan Sandi saling berpandangan member isyarat.

Irma :
Maafkan, kami Yoga. Kami menganggapmu tidak hanya sebagai sahabat, tapi juga sudah kami anggap saudara kami. Maknya, kami kuatir padamu….

Sandi :
Ya, maafkan kami. Kalau ternyata yang kami lakukan ini salah. Sebagai sahabat kami akan selalu mengingatkan sahabat kami untuk segala kebaikan.

Irma :
Dan, kami berharap besok kamu sekolahlah. Kalau seandainya ada masalah, kami siap membantumu.

Sandi :
Sekali lagi, maafkan kami.


Irma/Sandi :
Kami permisi……(Irma dan Sandi beranjak pergi)

Sepeninggal Irma dan Sandi, Yoga tiba-tiba meneteskan airmata. Ia menangis. Ilham tiba-tiba membentaknya.

Ilham :
Diam! Untuk apa kau nangis. Justru seharusnya kau malu. Karena aku sudah terlanjur malu…

Yoga :
Aku memang malu, Ham…

Ilham:
Apa yang kau malukan?! Ha?!

Yoga :
Aku malu karena mereka melihat aku seperti ini….

Ilham:
Eh, tunggu dulu. Kau piker yang kulakukan ini, menjadi seorang pengamen adalah sesuatu yang tidak memalukan!?

Yoga:
Bukan itu maksudku….
Ilham :
Ooo, jadi kau malu punya sahabat-sahabat seperti mereka? Atau kau malu berkawan denganku?!

Yoga :
Bukan. Aku malu sudah tiga bulan tidak bayar uang sekolah. Ibuku sakit, Ham. Hanya dialah yang sekarang menjadi tulang punggung keluargaku sejak Bapakku meninggal. Dan Aku melakukan pekerjaan ini untuk meringankan beban ibuku….(tangis Yoga pecah)

Ilham :
(Terdiam agak lama) Seharusnya, kau bangga punya sahabat seperti mereka. Seharusnya, kau bersyukur masih memiliki ibu. Kau jauh lebih baik dariku. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku sempat merasa beruntung ketika kau mau berkawan denganku. Tapi, sepertinya kau lebih egois dari yang kukira. Kenapa kau nggak cerita sama aku….

Ilham terduduk lesu. Yoga masih menangis. Ilham mengeluarkan sesuatu dari tas kain yang selalu disandangnnya.

Ilham :
Aku tidak tau berupa banyak uang yang kau perlukan, tapi aku berharap kau mau menerimanya…

Yoga:
(Memelas) tapi, ham….?


Ilham:
Tidak ada tapi….tapi. Ambil. Kalau kau tidak mau buang saja ke tempat sampah, berarti aku anggap perkawanan kita udah nggak ada lagi. Terserah kau! Maaf, aku pigi dulu….

Yoga semakin terisak. Dia tak berani menatap kepergian Ilham. Dia merasa sangat kesal dengan sikapnya terhadap Irma dan Sandi. Dia kembali menangis mengingat kondisi ibunya. Pelan-pelan tangannya meraih uang pemberian Ilham yang tergeletak di tanah begitu saja.

Yoga :
(Menahan isak) Terimakasih, sahabat-sahabatku. Terimakasih…..

LAMPU PERLAHAN REDUP BERSAMAAN DENGAN IRAMA MUSIK YANG SEMAKIN SAYUP.

TAMAT

Komunitas Home Poetry, Awal Oktober 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar