NASKAH DRAMA
REMAJA
INDAHNYA
PERSAHABATAN
M. RAUDAH JAMBAK
Siang itu
sepulangnya Irma dari sekolah dia kemudian mengajak Sandi untuk berkunjung
kerumah Yoga. Yoga tidak masuk sekolah, namun tidak ada surat izin sakit.
Irma:
Sandi,
kita main ke rumah Yoga yuuk!
Sandi:
Rupanya
kamu mau ngapai ke rumahnya si Yoga?
Irma:
Kan
tadi dia tidak masuk sekolah, dan dia juga nggak ada ngasih surat izin sama Bu,
guru. Jadi, aku mau tahu dia tu kenapa kok nggak masuk sekolah.
Sandi:
Oh
gitu.. ya sudah, ayukk.
Irma dan Sandi
lantas bergegas kerumahnya Yoga untuk mencari tahu apakah temannya tersebut
sakit atau kenapa. Tapi, begitu hendak bergerak Irma dan Sandi melihat Yoga
sedang mengutip sampah dan memasukkan ke karung goni yang sedang dipanggulnya.
Segera saja mereka menyapa. Yoga terkejut dan hendak melarikan diri.
Irma :
(Berteriak)
Yoga, tunggu…..
Sandi :
(Berteriak)
Kami mau bicara….
Yoga:
(Berhenti
sambil menatap mereka satu persatu dengan curiga) Eh.. kalian.. ada apa?! Kok ,
tumben kalian mau bicara padaku?
Irma :
(Ragu)
Aaa, maaf, Ga. Sebenarnya kami mau ke rumahmu. Tapi, kami bingung di mana
rumahmu?
Sandi :
(Mendekati
Yoga) Iya, Ga. Nggak papakan….?
Yoga:
(Sinis)
Kok , tumben kalian mau ke rumahku?
Irma:
Aaa
anu, Ga, kami hanya ingin tau kenapa kamu tadi tidak masuk sekolah? Kamu juga
nggak buat surat izin, itu kan bolos namanya?!
Sandi:
Iya,
Ga.. memangnya Kamu kemana? Aku pikir kamu lagi sakit, tapi ini aku lihat kamu
juga baik-baik aja.
Yoga:
Oh..
maaf, aku memang nggak sakit kok. Aku tu tadi bangunnya kesiangan, masak aku
mau pergi sekolah orang bangunku aja sudah jam 9-an.
Irma:
Memangnya
kamu abis darimana kok sampai kesiangan?
Yoga:
Semalam
aku abis main dari rumah temanku. Saking asyiknya sama mereka, aku lupa kalau
udah jam 4 pagi. Dah itu aku pulang, dan
jam 5 aku langsung tidur.
Sandi:
Kamu main sampe jam segitu?! Gila
kamu, Ga. Harusnya kamu tu kan mikir kalau paginya kamu harus masuk sekolah. Cemana
kamu nggak kesiangan kalau tidurnya aja jam 5.
Irma:
Yoga, kamu lain kali nggak boleh
kayak anak kecil. Ingat, kamu harus fokus sama pelajaran. Main sih boleh aja,
tapi kamu kan harus tidur tepat waktu supaya nggak bangun kesiangan?!
Yoga terdiam. Matanya sepertinya berkaca-kaca. Irma dan
Sandi saling pandang. Mereka cemas. Tetapi, mereka ragu ingin menanyakan lebih
lanjut. Pandangan mereka terus berganti antara mata Yoga yang tengah
berkaca-kaca dan karung goni yang dipanggulnya.
Yoga :
(Berpaling sambil menghapus air matanya)
Sebaiknya kelen pulang aja…
Irma/Sandi
:
Tapi, Ga….?
Yoga :
(Berteriak) Pulang….kataku! Ngerti
kelen nggak….!!!!!
Irma/Sandi :
Ga…..
Yoga:
(Berteriak makin keras) Pigi kelen!
Pigi!!!!
Irma :
Kami sahabatmu, Ga. Nggak kami nggak
mau pigi sebelum kami tau persoalan yang sebenarnya.
Sandi:
Iya, Ga. Demi sahabat kami, kami
tidak perduli apa yang terjadi dengan kami….
Yoga berteriak sekuat-kuatnya mengusir kedua sahabatnya.
Irma dan Sandi tak bergeming. Yoga semakin menjadi, ia lempari kedua sahabatnya
dengan sampah bekas air mineral yang ada dari dalam karung goninya. Mulutnya
terus teriak mengusir Irma dan Sandi. Sampai pada puncaknya Yoga mengancam
dengan alat pengait sampah yang ujungnya terbuat dari besi runcing yang tajam.
Yoga :
(Sambil menahan amarah) Mau pigi
atau kelen harus terima apa yang akan terjadi….(mengacungkan alat pengait
sampah)
Mata Yoga memerah. Irma dan Sandi masih tidak beranjak.
Setiap kali Yoga meminta mereka pergi, Irma dan Sandi tetap menggeleng
menyatakan tidak mau beranjak dari tempat itu. Bersamaan itu terdengar dari
kejauhan suara musik gitar Ilham, si anak pengamen. Yoga segera membereskan
sampah yang berserakan dan memasukkannya kembali ke karung goni. Tidak lama
kemudian, Ilham (teman Yoga) datang.
Ilham :
(Bersiul-siul kecil lalu
senyum-senyum tak jelas)
Yoga:
Eh, kamu Ham,, ada apa?
Ilham:
Dicariin kemana-mana nggak ketemu.
Rupanya di sini ente, bro….
Yoga:
(Pura-pura membereskan barangnya)
Iya, ada apa ham…
Ilham :
(Menatap tajam sekaligus heran ke
Yoga lalu ke Irma dan Sandi) Eh, bro. Kenapa, Ente?
Yoga:
(Segera mengelap air matanya yang
sempat menetes) Nggak apa-apa…..
Ilham:
(Matanya liar menatap ke Irma dan
Sandi) Diapain orang ini ko….(Mendekati Irma dan Sandi yang mulai ketakutan)
Yoga:
(Segera menghalangi langkah Ilham)
Jangan… Orang ni nggak ngapa-ngapain. Orang ini mo bantu aku membereskan
barang-barangku yang sempat terserak tadi.
Ilham :
Jadi, kau kok nangis?!
Yoga:
Aku tadi terpeleset, jatuh….
Ilham:
Ooo, gitunya. Kau nggak papakan.
(Yoga menggeleng) Syukurlah. (Merangkul Yoga) Eh.. aku mau ngajak kau
main-main, cemana?!. Kau nggak lagi ada acara kan?
Yoga:
Nggak ada, memangnya mau kemana ko
ajak aku?
Belum sempat Ilham menjawab, Irma pun lantas menyaut dan
menasehati si Ilham supaya tidak suka mengajak Yoga main-main.
Sandi :
Tunggu, Ga. Jangan main-main dulu.
Kami mo bicara….
Irma :
Iya, Ga…
Ilham :
(Naik darahnya) Eh, kelen tu siapa?
Enak-enak aja melarang orang. Nggak sor kelen ya. Bilang mo dimana?! Ha… Di
sini Juga boleh (Yoga segera menahan Ilham sambil member isyarat agar Irma dan
Sandi pergi)
Sandi
:
(Memberanikan diri) Kami sahabat
Yoga, terus ko mo apa?!
Ilham :
(Semakin naik pitam) Yah, nantang
kelen ya. Dua-dua kelen maju….(Yoga kembali menahan Ilham dan menyuruh Irma dan
Sandi agar segera pergi).
Sandi :
Sekali lagi kami bilang. Kami
sahabatnya, terus ko siapa?!
Ilham :
(Wajahnya memerah) Aku kawannya.
Kenapa rupanya?! Nggak sor kelen?! Maju! Dua-duanya kalau perlu…. Maju!?
Irma:
Ooo jadi, kau temannya Yoga?
Ilham:
Ya iyalah, memang kenapa rupanya ha!?
Irma:
Ya, udah. Tapi, kalau kau tu temannya Yoga yang baik, kau mestinya punya rasa peduli sama dia. Kau ingatkan dia, kalau main itu jangan sampai tak kenal waktu. Kalau kalian mainnya sampai tak kenal waktu, alhasil keesokan harinya Yoga nggak masuk sekolah karena bangunnya telat.
Ya, udah. Tapi, kalau kau tu temannya Yoga yang baik, kau mestinya punya rasa peduli sama dia. Kau ingatkan dia, kalau main itu jangan sampai tak kenal waktu. Kalau kalian mainnya sampai tak kenal waktu, alhasil keesokan harinya Yoga nggak masuk sekolah karena bangunnya telat.
Ilham:
Banyak kali cerita kelen…..
Sandi:
Sabar, kawan. Kami bicara ini demi kebaikan sahabat kami….
Sabar, kawan. Kami bicara ini demi kebaikan sahabat kami….
Ilham :
Apa sabar-sabar!? Lagi pula kelen
bukan kawanku…
Irma :
Dengar dulu. Setelah kami becakap kami
akan segera pigi. Yoga sahabat kami, sedangkan teman Yoga berarti teman kami….
Ilham :
Sukak kelenlah. (Menenangkan diri)
Oke. Kelen kukasi kesempatan becakap. Sesudah itu kuminta kelen segera cabut.
Pigi dari tempat ini….(Irma dan Sandi mengangguk setuju) Sekarang, apa yang mo
kelen cakapkan….
Sandi:
(Agak berhati-hati bicara) Yoga,
sahabat kami ini, sudah tiga hari tidak sekolah…
Irma :
(Memotong) Ya, kami kuatir dia
sakit. Makanya, kami mencari alamat rumahnya untuk datang melihatnya….
Sandi :
(Memotong) Akhirnya, nggak sengaja
kami jumpa di sini…
Irma:
(Memotong) Ya, kami hampir
ditumbuknya….
Sandi :
(Memotong) Ya, untung kau datang…
Irma dan Sandi terdiam. Yoga tertunduk. Ilham melihat ke
arah Yoga seolah tak percaya. Irma dan Sandi saling berpandangan member
isyarat.
Irma :
Maafkan, kami Yoga. Kami
menganggapmu tidak hanya sebagai sahabat, tapi juga sudah kami anggap saudara
kami. Maknya, kami kuatir padamu….
Sandi :
Ya, maafkan kami. Kalau ternyata
yang kami lakukan ini salah. Sebagai sahabat kami akan selalu mengingatkan
sahabat kami untuk segala kebaikan.
Irma :
Dan, kami berharap besok kamu
sekolahlah. Kalau seandainya ada masalah, kami siap membantumu.
Sandi :
Sekali lagi, maafkan kami.
Irma/Sandi
:
Kami permisi……(Irma dan Sandi beranjak
pergi)
Sepeninggal Irma dan Sandi, Yoga tiba-tiba meneteskan
airmata. Ia menangis. Ilham tiba-tiba membentaknya.
Ilham :
Diam! Untuk apa kau nangis. Justru
seharusnya kau malu. Karena aku sudah terlanjur malu…
Yoga :
Aku memang malu, Ham…
Ilham:
Apa yang kau malukan?! Ha?!
Yoga :
Aku malu karena mereka melihat aku
seperti ini….
Ilham:
Eh, tunggu dulu. Kau piker yang
kulakukan ini, menjadi seorang pengamen adalah sesuatu yang tidak memalukan!?
Yoga:
Bukan itu maksudku….
Ilham :
Ooo, jadi kau malu punya
sahabat-sahabat seperti mereka? Atau kau malu berkawan denganku?!
Yoga :
Bukan. Aku malu sudah tiga bulan
tidak bayar uang sekolah. Ibuku sakit, Ham. Hanya dialah yang sekarang menjadi
tulang punggung keluargaku sejak Bapakku meninggal. Dan Aku melakukan pekerjaan
ini untuk meringankan beban ibuku….(tangis Yoga pecah)
Ilham
:
(Terdiam agak lama) Seharusnya, kau
bangga punya sahabat seperti mereka. Seharusnya, kau bersyukur masih memiliki
ibu. Kau jauh lebih baik dariku. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku
sempat merasa beruntung ketika kau mau berkawan denganku. Tapi, sepertinya kau
lebih egois dari yang kukira. Kenapa kau nggak cerita sama aku….
Ilham terduduk lesu. Yoga masih menangis. Ilham mengeluarkan
sesuatu dari tas kain yang selalu disandangnnya.
Ilham :
Aku tidak tau berupa banyak uang
yang kau perlukan, tapi aku berharap kau mau menerimanya…
Yoga:
(Memelas) tapi, ham….?
Ilham:
Tidak ada tapi….tapi. Ambil. Kalau
kau tidak mau buang saja ke tempat sampah, berarti aku anggap perkawanan kita
udah nggak ada lagi. Terserah kau! Maaf, aku pigi dulu….
Yoga semakin terisak. Dia tak berani menatap kepergian
Ilham. Dia merasa sangat kesal dengan sikapnya terhadap Irma dan Sandi. Dia
kembali menangis mengingat kondisi ibunya. Pelan-pelan tangannya meraih uang
pemberian Ilham yang tergeletak di tanah begitu saja.
Yoga :
(Menahan isak) Terimakasih,
sahabat-sahabatku. Terimakasih…..
LAMPU PERLAHAN REDUP BERSAMAAN
DENGAN IRAMA MUSIK YANG SEMAKIN SAYUP.
TAMAT
Komunitas
Home Poetry, Awal Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar