Selasa, 12 Januari 2016

PILIHAN NASKAH FTP 2016 JUDUL INDAHNYA PERSAHABATAN KARYA M. RAUDAH JAMBAK















































NASKAH DRAMA REMAJA
INDAHNYA PERSAHABATAN
M. RAUDAH JAMBAK

Siang itu sepulangnya Irma dari sekolah dia kemudian mengajak Sandi untuk berkunjung kerumah Yoga. Yoga tidak masuk sekolah, namun tidak ada surat izin sakit.

Irma:
Sandi, kita main ke rumah Yoga yuuk!

Sandi:
Rupanya kamu mau ngapai ke rumahnya si Yoga?

Irma:
Kan tadi dia tidak masuk sekolah, dan dia juga nggak ada ngasih surat izin sama Bu, guru. Jadi, aku mau tahu dia tu kenapa kok nggak masuk sekolah.

Sandi:
Oh gitu.. ya sudah, ayukk.

Irma dan Sandi lantas bergegas kerumahnya Yoga untuk mencari tahu apakah temannya tersebut sakit atau kenapa. Tapi, begitu hendak bergerak Irma dan Sandi melihat Yoga sedang mengutip sampah dan memasukkan ke karung goni yang sedang dipanggulnya. Segera saja mereka menyapa. Yoga terkejut dan hendak melarikan diri.

Irma :
(Berteriak) Yoga, tunggu…..

Sandi :
(Berteriak) Kami mau bicara….

Yoga:
(Berhenti sambil menatap mereka satu persatu dengan curiga) Eh.. kalian.. ada apa?! Kok , tumben kalian mau bicara padaku?

Irma :
(Ragu) Aaa, maaf, Ga. Sebenarnya kami mau ke rumahmu. Tapi, kami bingung di mana rumahmu?

Sandi :
(Mendekati Yoga) Iya, Ga. Nggak papakan….?

Yoga:
(Sinis) Kok , tumben kalian mau ke rumahku?

Irma:
Aaa anu, Ga, kami hanya ingin tau kenapa kamu tadi tidak masuk sekolah? Kamu juga nggak buat surat izin, itu kan bolos namanya?!

Sandi:
Iya, Ga.. memangnya Kamu kemana? Aku pikir kamu lagi sakit, tapi ini aku lihat kamu juga baik-baik aja.

Yoga:
Oh.. maaf, aku memang nggak sakit kok. Aku tu tadi bangunnya kesiangan, masak aku mau pergi sekolah orang bangunku aja sudah jam 9-an.

Irma:
Memangnya kamu abis darimana kok sampai kesiangan?

Yoga:
Semalam aku abis main dari rumah temanku. Saking asyiknya sama mereka, aku lupa kalau udah jam 4 pagi. Dah  itu aku pulang, dan jam 5 aku langsung tidur.

Sandi:
Kamu main sampe jam segitu?! Gila kamu, Ga. Harusnya kamu tu kan mikir kalau paginya kamu harus masuk sekolah. Cemana kamu nggak kesiangan kalau tidurnya aja jam 5.

Irma:
Yoga, kamu lain kali nggak boleh kayak anak kecil. Ingat, kamu harus fokus sama pelajaran. Main sih boleh aja, tapi kamu kan harus tidur tepat waktu supaya nggak bangun kesiangan?!

Yoga terdiam. Matanya sepertinya berkaca-kaca. Irma dan Sandi saling pandang. Mereka cemas. Tetapi, mereka ragu ingin menanyakan lebih lanjut. Pandangan mereka terus berganti antara mata Yoga yang tengah berkaca-kaca dan karung goni yang dipanggulnya.

Yoga :
(Berpaling sambil menghapus air matanya) Sebaiknya kelen pulang aja…

Irma/Sandi :
Tapi, Ga….?

Yoga :
(Berteriak) Pulang….kataku! Ngerti kelen nggak….!!!!!

Irma/Sandi :
Ga…..

Yoga:
(Berteriak makin keras) Pigi kelen! Pigi!!!!

Irma :
Kami sahabatmu, Ga. Nggak kami nggak mau pigi sebelum kami tau persoalan yang sebenarnya.

Sandi:
Iya, Ga. Demi sahabat kami, kami tidak perduli apa yang terjadi dengan kami….

Yoga berteriak sekuat-kuatnya mengusir kedua sahabatnya. Irma dan Sandi tak bergeming. Yoga semakin menjadi, ia lempari kedua sahabatnya dengan sampah bekas air mineral yang ada dari dalam karung goninya. Mulutnya terus teriak mengusir Irma dan Sandi. Sampai pada puncaknya Yoga mengancam dengan alat pengait sampah yang ujungnya terbuat dari besi runcing yang tajam.

Yoga :
(Sambil menahan amarah) Mau pigi atau kelen harus terima apa yang akan terjadi….(mengacungkan alat pengait sampah)

Mata Yoga memerah. Irma dan Sandi masih tidak beranjak. Setiap kali Yoga meminta mereka pergi, Irma dan Sandi tetap menggeleng menyatakan tidak mau beranjak dari tempat itu. Bersamaan itu terdengar dari kejauhan suara musik gitar Ilham, si anak pengamen. Yoga segera membereskan sampah yang berserakan dan memasukkannya kembali ke karung goni. Tidak lama kemudian, Ilham (teman Yoga) datang.

Ilham :
(Bersiul-siul kecil lalu senyum-senyum tak jelas)

Yoga:
Eh, kamu Ham,, ada apa?

Ilham:
Dicariin kemana-mana nggak ketemu. Rupanya di sini ente, bro….

Yoga:
(Pura-pura membereskan barangnya) Iya, ada apa ham…

Ilham :
(Menatap tajam sekaligus heran ke Yoga lalu ke Irma dan Sandi) Eh, bro. Kenapa, Ente?

Yoga:
(Segera mengelap air matanya yang sempat menetes) Nggak apa-apa…..

Ilham:
(Matanya liar menatap ke Irma dan Sandi) Diapain orang ini ko….(Mendekati Irma dan Sandi yang mulai ketakutan)

Yoga:
(Segera menghalangi langkah Ilham) Jangan… Orang ni nggak ngapa-ngapain. Orang ini mo bantu aku membereskan barang-barangku yang sempat terserak tadi.

Ilham :
Jadi, kau kok nangis?!

Yoga:
Aku tadi terpeleset, jatuh….


Ilham:
Ooo, gitunya. Kau nggak papakan. (Yoga menggeleng) Syukurlah. (Merangkul Yoga) Eh.. aku mau ngajak kau main-main, cemana?!. Kau nggak lagi ada acara kan?

Yoga:
Nggak ada, memangnya mau kemana ko ajak aku?

Belum sempat Ilham menjawab, Irma pun lantas menyaut dan menasehati si Ilham supaya tidak suka mengajak Yoga main-main.

Sandi :
Tunggu, Ga. Jangan main-main dulu. Kami mo bicara….

Irma :
Iya, Ga…

Ilham :
(Naik darahnya) Eh, kelen tu siapa? Enak-enak aja melarang orang. Nggak sor kelen ya. Bilang mo dimana?! Ha… Di sini Juga boleh (Yoga segera menahan Ilham sambil member isyarat agar Irma dan Sandi pergi)

Sandi :
(Memberanikan diri) Kami sahabat Yoga, terus ko mo apa?!

Ilham :
(Semakin naik pitam) Yah, nantang kelen ya. Dua-dua kelen maju….(Yoga kembali menahan Ilham dan menyuruh Irma dan Sandi agar segera pergi).

Sandi :
Sekali lagi kami bilang. Kami sahabatnya, terus ko siapa?!

Ilham :
(Wajahnya memerah) Aku kawannya. Kenapa rupanya?! Nggak sor kelen?! Maju! Dua-duanya kalau perlu…. Maju!?

Irma:
Ooo jadi, kau temannya Yoga?

Ilham:
Ya iyalah, memang kenapa rupanya ha!?

Irma:
Ya, udah. Tapi, kalau kau tu temannya Yoga yang baik, kau mestinya punya rasa peduli sama dia. Kau ingatkan dia, kalau main itu jangan sampai tak kenal waktu. Kalau kalian mainnya sampai tak kenal waktu, alhasil keesokan harinya Yoga nggak masuk sekolah karena bangunnya telat.

Ilham:
Banyak kali cerita kelen…..

Sandi:
Sabar, kawan. Kami bicara ini demi kebaikan sahabat kami….

Ilham :
Apa sabar-sabar!? Lagi pula kelen bukan kawanku…

Irma :
Dengar dulu. Setelah kami becakap kami akan segera pigi. Yoga sahabat kami, sedangkan teman Yoga berarti teman kami….

Ilham :
Sukak kelenlah. (Menenangkan diri) Oke. Kelen kukasi kesempatan becakap. Sesudah itu kuminta kelen segera cabut. Pigi dari tempat ini….(Irma dan Sandi mengangguk setuju) Sekarang, apa yang mo kelen cakapkan….

Sandi:
(Agak berhati-hati bicara) Yoga, sahabat kami ini, sudah tiga hari tidak sekolah…

Irma :
(Memotong) Ya, kami kuatir dia sakit. Makanya, kami mencari alamat rumahnya untuk datang melihatnya….

Sandi :
(Memotong) Akhirnya, nggak sengaja kami jumpa di sini…

Irma:
(Memotong) Ya, kami hampir ditumbuknya….

Sandi :
(Memotong) Ya, untung kau datang…

Irma dan Sandi terdiam. Yoga tertunduk. Ilham melihat ke arah Yoga seolah tak percaya. Irma dan Sandi saling berpandangan member isyarat.

Irma :
Maafkan, kami Yoga. Kami menganggapmu tidak hanya sebagai sahabat, tapi juga sudah kami anggap saudara kami. Maknya, kami kuatir padamu….

Sandi :
Ya, maafkan kami. Kalau ternyata yang kami lakukan ini salah. Sebagai sahabat kami akan selalu mengingatkan sahabat kami untuk segala kebaikan.

Irma :
Dan, kami berharap besok kamu sekolahlah. Kalau seandainya ada masalah, kami siap membantumu.

Sandi :
Sekali lagi, maafkan kami.


Irma/Sandi :
Kami permisi……(Irma dan Sandi beranjak pergi)

Sepeninggal Irma dan Sandi, Yoga tiba-tiba meneteskan airmata. Ia menangis. Ilham tiba-tiba membentaknya.

Ilham :
Diam! Untuk apa kau nangis. Justru seharusnya kau malu. Karena aku sudah terlanjur malu…

Yoga :
Aku memang malu, Ham…

Ilham:
Apa yang kau malukan?! Ha?!

Yoga :
Aku malu karena mereka melihat aku seperti ini….

Ilham:
Eh, tunggu dulu. Kau piker yang kulakukan ini, menjadi seorang pengamen adalah sesuatu yang tidak memalukan!?

Yoga:
Bukan itu maksudku….
Ilham :
Ooo, jadi kau malu punya sahabat-sahabat seperti mereka? Atau kau malu berkawan denganku?!

Yoga :
Bukan. Aku malu sudah tiga bulan tidak bayar uang sekolah. Ibuku sakit, Ham. Hanya dialah yang sekarang menjadi tulang punggung keluargaku sejak Bapakku meninggal. Dan Aku melakukan pekerjaan ini untuk meringankan beban ibuku….(tangis Yoga pecah)

Ilham :
(Terdiam agak lama) Seharusnya, kau bangga punya sahabat seperti mereka. Seharusnya, kau bersyukur masih memiliki ibu. Kau jauh lebih baik dariku. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku sempat merasa beruntung ketika kau mau berkawan denganku. Tapi, sepertinya kau lebih egois dari yang kukira. Kenapa kau nggak cerita sama aku….

Ilham terduduk lesu. Yoga masih menangis. Ilham mengeluarkan sesuatu dari tas kain yang selalu disandangnnya.

Ilham :
Aku tidak tau berupa banyak uang yang kau perlukan, tapi aku berharap kau mau menerimanya…

Yoga:
(Memelas) tapi, ham….?


Ilham:
Tidak ada tapi….tapi. Ambil. Kalau kau tidak mau buang saja ke tempat sampah, berarti aku anggap perkawanan kita udah nggak ada lagi. Terserah kau! Maaf, aku pigi dulu….

Yoga semakin terisak. Dia tak berani menatap kepergian Ilham. Dia merasa sangat kesal dengan sikapnya terhadap Irma dan Sandi. Dia kembali menangis mengingat kondisi ibunya. Pelan-pelan tangannya meraih uang pemberian Ilham yang tergeletak di tanah begitu saja.

Yoga :
(Menahan isak) Terimakasih, sahabat-sahabatku. Terimakasih…..

LAMPU PERLAHAN REDUP BERSAMAAN DENGAN IRAMA MUSIK YANG SEMAKIN SAYUP.

TAMAT

Komunitas Home Poetry, Awal Oktober 2015

Sabtu, 09 Januari 2016

FESTIVAL TEATER PELAJAR 2016 TINGKAT SLTP SE-SUMATERA UTARA


PILIHAN NASKAH FTP 2016 JUDUL PELAJARAN MEMAAFKAN KARYA M. RAUDAH JAMBAK



Drama Remaja
M. Raudah Jambak, S. Pd

PELAJARAN MEMAAFKAN

PERLAHAN MUSIK SAYUP-SAYUP TERDENGAR. BERSAMAAN DENGAN  ITU LAMPU MENYALA. DI TENGAH-TENGAH PANGGUNG SESEORANG SEDANG DUDUK DI KURSI. KEMUDIAN PERLAHAN BERDIRI DAN MENGHADAP KE ARAH PENONTON.

Dongdong       : (Sikap berdiri menghadap ke penonton) Bapak-bapak, Ibu-ibu yang kami hormati.terimakasih atas ke datangannya. Kali ini kami akan mempersembahkan sebuah drama yang tentunya-tentunya  bapak-bapak, ibu-ibu dan teman-teman, bingung. Ya, bingung. Sebab, kami membuat drama dalam sebuah drama. Oke (tempo) Bapak-bapak, Ibu-ibu dan teman-teman.  Diceritakan...peristiwa ini terjadi pada saat jam ekstrakurikuler. Saat itu anak-anak sedang sibuk di taman sekolah. Ada yang membaca. Ada yang bercerita. Ada yang sedang sibuk sendiri. Mereka lalu sibuk ketika dari kejauhan seseorang  datang. Tingkahnya seperti seorang guru. Andana memberi kode. Bagaimana cerita ini selanjutnya?! Mari kita saksikan saja. Selamat menyaksikan.

DONGDONG KELUAR. LAMPU PERLAHAN REDUP BEBERAPA SAAT. KEMUDIAN PERLAHAN KEMBALI HIDUP. DI ATAS PENTAS ANAK-ANAK TERLIHAT SEDANG SIBUK DI TAMAN SEKOLAH. ADA YANG MEMBACA. ADA YANG BERCERITA. ADA YANG SEDANG SIBUK SENDIRI BELAJAR DRAMA. MEREKA LALU SIBUK KETIKA DONGDONG  DATANG. TINGKAHNYA SEPERTI SEORANG GURU. ANDANA MEMBERI KODE.  

Andana           : Ssst, Pak Guru datang
Dongdong       : (bergaya seperti Pak Guru) Selamat pagi, Anak-anak?
Siswa               : Selamat pagi, Pak?
Dongdong       : Anak-anak, kemarin Bapak memberikan tugas Bahasa Indonesia membuat pantun, semua sudah mengerjakan?
Siswa               : Sudah, Pak….
Dongdong       : Andana, coba kamu bacakan pantun yang kamu buat.
Andana           : Iya, Pak. (Membaca) Apa tanda kota belawan/ Lampu merah sebelah kanan/Apa
                          tanda kita berkawan/Saling bantu dalam kesusahan

Dongdong       : Bagus. Kalau kamu Nauval? Sudah siap?

Nauval             : Sudah, Pak. Jalan-jalan kegunung jati/Hati-hati meniti titi/Apa tanda manusia sejati/
                          Bila berjanji harus ditepati

Dongdong       : Sekarang giliranmu, Thariq......

Thariq              : Baik, Pak. Awas tertusuk paku berkarat/ Paku berkarat disamping papan/ Mau         
                          selamat dunia akherat/ Sholat wajib jangan tinggalkan

Dongdong       : Pintar semua. Sekarang kamu, Alvin. Apakah kamu sudah membuat pantun?
Alvin               : Sudahlah, Pak.
Dongdong       : Coba kamu bacakan untuk teman-temanmu…
Alvin               : (sambil tersenyum mengejek) Jalan ke hutan melihat salak /Ada pula pohon-pohon tua /Ayam jantan terbahak-bahak /Lihat Farah giginya dua....
Siswa               : (Tertawa)
Dongdong       : Alvin, kamu nggak boleh seperti itu sama temannya. Kekurangan orang lain itu bukan untuk ditertawakan. Coba kamu buat pantun yang lain.

Alvin               : Iya, Pak....
Dongdong       : (senyum-senyum tak jelas) Ya, sudah. Bapak ke kantor dulu ya.....hehehe (pergi
sambil tertawa ngakak)

SEPENINGGAL DONGDONG MEREKA TERTAWA. SETELAHNYA MEREKA KEMBALI
SIBUK DENGAN PERMAINAN MEREKA. KALI INI ADA YANG BERMAIN KERETA-
KERETA API-AN, ADA YANG BERNYANYI. ADA YANG MENARI. ADA JUGA YANG
MASIH SIBUK BELAJAR, DLL. PADA SAAT ITU ALVIN, DKK,  DIAM-DIAM
MENGGANGGU FARAH, DKK, YANG SEDANG SIBUK BELAJAR DRAMA.

Farah               : (Wajah cemberut) Alvin, kenapa sih kamu selalu usil? Kenapa kamu selalu meng
                          ejek aku? Memangnya kamu suka kalau diejek?
Alvin               : (tertawa)  Aduh…maaf lah, Farah.
Andana           : (Ikut tertawa) Wah, Farah marah, Vin.
Nauval             : (tertawa juga) Wah, bisa gawat kalau Farah marah.
Alvin               : (tertawa) Kamu marah ya, Farah?
Farah               : Iya lah. Habis…kamu nakal. Kamu memang sengaja mengejek aku kan, biar anak-
                          anak  mentertawakan aku.
Alvin               : Wah…jangan marah lah, aku kan cuma bercanda.
Andana           : Iya, kan cuma bercanda.
Nauval            : Iya, Farah. Alvin kan cuma becanda kok.
Alvin               : Sudahlah, Farah. Eh, katanya marah itu bisa menghambat pertumbuhan badan lho,
                          nanti kamu badannya pendek terus, hahaha…
Farah               : Huh! kalian jahat! (Berteriak) Aku nggak mau cakap lagi sama kalian!
Humaira       : (menenangkan) Sudahlah Farah, nggak usah dipikirin. Alvin kan memang usil dan nakal. Nanti kalau kita marah, dia malah tambah senang. Kita diamkan saja anak itu sama kawan-kawannya (mengajak pergi) Yok, kita pergi....
Thariq             : Ya, sudahlah, Farah. Orang-orang seperti itu tidak usah diurusin.
Alvin               : Ya, pergi yang jauh. Nanti dikejar kucing (tertawa meledek).
Andana           : Jangan lupa, permisi sama mama, hahaha....
Nauval            : Eee, merajuk ni yeee....hahaha
Thariq             : (mendekat) Sekali lagi kalian bicara.....?!
Alvin               : Kenapa? Ha?! Kalau kami sekali lagi bicara kenapa?!
Farah            : Sudahlah, Thariq. Kan kamu sendiri yang bilang orang-orang seperti mereka tidak usah diurusin.
Thariq              : Tapi, Farah. Mereka sudah keterlaluan.
Farah                : Sudahlah. Ayo.... kita belajar lagi.
Humaira          :  Ya, Thariq. Sudahlah. Kita tidak akan pernah menang dengan orang-orang seperti ini.
FARAH, THARIQ DAN HUMAIRA BELAJAR DRAMA KEMBALI TIDAK MENGHIRAUKAN  ALVIN DAN KAWAN-KAWAN YANG MASIH TERUS TERTAWA.

Alvin               : (mendekati Farah) Rah, nama kamu kok bagus sih. mengeja nama Farah itu
                          kekmana?”
Farah               : Apa sih, kamu mau mengganggu lagi ya? Beraninya cuma sama anak perempuan…
Alvin               : Yah…aku kan cuma bertanya, mengeja nama Farah itu kekmana. Masak gitu aja
                           Farah...eh, marah....
Farah               : Memangnya kenapa sih? (Curiga) Farah ya mengejanya F-A-R-A-H lah!
Alvin               : Haaa…kamu itu gimana sih, Rah. Percuma juara kelas kok belum bisa mengeja
nama sendiri dengan benar. Farah itu mengejanya Parah. Itu lho kayak pemotong
kayu, hahaha….
Andana           : Itu parang, namanya, hahahaha.....
Alvin               : Parang? O, yang di pohon itu, ya, hahaha......
Nauval             : Itu, batang. Bukan parang, hahaha…..
Alvin               : O, Batang. Ucapan yang selalu diletakkan dekat pintu masukkan? Selamat Batang,
                          hahaha..............
Humaira          : Sudahlah, Alvin, kamu selalu begitu! Bisa nggak sih, sehari tanpa berbuat nakal?
                          Lagian kamu cuma berani nakalin anak perempuan. Dasar!                        
Thariq              : Sudahlah. Mereka tidak usah kita ladeni.
Alvin               : Eh, ada orang rupanya.
Thariq              : Kamu pikir kami ini apa?! (marah)
Alvin               : Nggak, ah. Kami pikir hari gini kok ada alien, alias makhluk angkasa luar, hahaha...   
Humaira          : Sudahlah, yok….
Thariq              : Kali sudah tidak bisa dibiarkan.
Farah               : Thariq. Kamu sahabatku yang paling penyabar. Jangan rusak kesabaranmu dengan
                           hal-hal sepele seperti ini.
Thariq              : Ya, aku mengerti. (Kepada Alvin) Hei, kalian. Kalau bukan karena Farah. Sudah
                           habis kalian kubuat.
Alvin               : Terimakasih, Pahlawanku. Terimakasih atas pengampunannya, hahaha....

ALVIN DAN KAWAN-KAWAN TERTAWA TERBAHAK-BAHAK. FARAH DAN KAWAN-KAWANNYA SEGERA MENYIBUKKAN DIRI DENGAN PELAJARAN. ANAK-ANAK YANG LAIN SEDANG SIBUK JUGA DENGAN KEGIATAN MEREKA. ADA YANG MEMBACA. ADA YANG BERCERITA. ADA YANG SEDANG MENARI, DLL. MEREKA LALU SIBUK LAGI KETIKA DONGDONG  DATANG LAGI KALI INI BERGAYA SEPERTI SUTRADARA …..ALVIN, DKK PERGI BEGITU SAJA. DONGDONG MENDATANGI FARAH.

Dongdong       : (Bergaya sutradara) Hei, Farah. Apakah kamu sudah melatih drama yang akan kita pentaskan nanti?
Farah               : (Tersenyum kecut) Ya, sudah, Dongdong.
Dongdong       : (Tersinggung) Eit, jangan panggil Dongdong. Aku sutradara, panggil aku Pak
                          Sutradara, mengerti?!
Farah               : (menahan geli) Mmmengerti, Pppak Sutradara....
Dongdong       : Bagus. Sebagai ibu, siapa....?
Humaira          : Saya, Pak Sutra....
Dongdong       : Mantap. Jadi Bapak?!
Thariq              :  Aku, Pak Dara.....
Dongdong       : Bagus. Bagus. Tetapi, lain kali memanggil saya jangan sepotong-sepotong oke.
Serentak          : Ya, Pak Sutradara Dongdong.....
Dongdong       : Bagus. Bagus. Sekarang setanbai.....

MEREKA SEGARA MEMPERSIAPKAN DIRI DENGAN SETTING SEADANYA. DONGDONG SIBUK MENGATUR.

Dongdong       : (Memberi aba-aba) Oke, .....eksen!...
Humaira          : (Sikap seorang ibu) Sudah jam berapa ini, Nak? Ayo cepat. Nanti kamu
                           terlambat....
Farah               : Malas, Ma....
Humaira          : Lho, Anak Mama. Kamu tidak boleh bicara seperti itu.
Farah               : Farah malas sekolah hari ini, Ma.
Humaira          : Kamu tidak biasanya seperti ini. Biasanya kamu selalu bersemangat jika hendak
                           berangkat ke sekolah. Ayo, cerita ke Mama. Ada apa sebenarnya? 
Farah               : (menggeleng)
Humaira          : O, Mama mengerti. Kamu belum dapat uang jajan dari Papa, ya?
Farah               : (menggeleng)
Humaira          : Jadi apa, sayang? Kamu belum siap PR, ya? Sudahlah biara Mama telpon gurumu...
Farah               : (menggeleng)
Humaira          : Dimarahi Ibu Guru ya, di sekolah? Atau, Hm, Mama tahu kamu berekelahi dengan
                          temanmu kan?
Farah               : Alvin, Ma?
Humaira          : Alvin?
Dongdong       : (memberi aba-aba berhenti) Kat.... Tunggu dulu kenapa nama tokohnya jadi
                           Alvin?!
Thariq              : Biar lebih menghayati Pak Sutradara Dongdong...
Dongdong       : O, begitu?!
Thariq              : Ya, Begitu...
Dongdong       : Oke....setanbiye. Eksen !
Humaira          : Dimarahi Ibu Guru ya, di sekolah? Atau, Hm, Mama tahu kamu berekelahi dengan
                          temanmu kan?
Farah               : Alvin, Ma?
Humaira          : Alvin?
Farah               : (mengangguk)
Humaira          : Teman sekelasmu?
Farah               : (mengangguk)
Humaira          : Hm, anak mama. Sudah mulai hm, hm ya...
Dongdong       : Kat….! Drama kita tidak boleh ada hm hmnya. Kita masih di bawah umur. Ngerti!?
Thariq              : Ini tidak hm hm yang Pak Sutradara Dongdong maksud…
Dongdong       : Jadi, ini hm hm yang mana…
Thariq              : Pokoknya tidak ada…. Lagi pula kitakan belum pernah jadi orangtua kita nggak
                          ngerti hm hm itu, ya kan teman-teman? (Farah dan Humaira hnaya mengangguk)
Dongdong       : O, begitu?! Lanjut. Eksen….!
Humaira          : Alvin?
Farah               : (mengangguk)
Humaira          : Teman sekelasmu?
Farah               : (mengangguk)
Humaira          : Hm, anak Mama. Sudah mulai hm, hm ya...
Farah               : Iiih, Mama. Farah masih kecil tahu. Farah masih mau belajar….
Humaira          : Jadi apa, Sayang? Mama nggak ngerti kalau kamu nggak cerita ke Mama. Ayolah...
Farah               : (menggeleng)
Humaira          : Berarti kamu mengganggu Alvin, ya?
Farah               : Alvin yang mengganggu Farah (menangis)
Humaira          : Lho, anak Mama. Kok ditanya malah menangis?
Farah               : Alvin yang mengganggu Farah, Ma (menangis)
Humaira          : Ya, tapi kamu jangan menangis. Sudah. Tuh, cantiknya bisa hilang lho. Eh, anak
                          Mama. Cepat berangkat ke sekolah ditungguin Papa tuh...

FARAH MASIH MENANGIS. BU ASTUTI BERUSAHA MEMBUJUKNYA. PADA SAAT ITU PAPA MASUK.

Thariq              : Aduh, Anak Papa. Ditungguin kok masih di sini? Lho, Anak Papa kenapa
                          menangis? Kenapa, Ma?
Humaira          : Biasa, Pa. Anak-anak. Farah nggak mau sekolah. Malas katanya.
Thariq              : Aduh, Anak Papa. Kalau nggak sekolah, cantiknya bisa berkurang lho.
Farah               : Biarin...
Humaira          : Sayang, Mama. Nggak boleh bicara seperti itu sama Papa, ya....
Thariq              : Ada apa sebenarnya, Ma?
Humaira          : Ini lho, Pa. Katanya Farah digangguin sama temannya. Siapa namanya, Sayang?
Farah               : Alvin...
Humaira          : Ya, Alvin...
Thariq              : Mungkin kamu buat salah?
Farah               : Alvin yang salah, Papa?! (menangis)
Humaira          : Papa...
Thariq              : Ya, sudah. Nanti Papa beritahu guru kamu....
Farah               : Jangan...
Humaira          : Atau ke Mama Alvin
Farah               : Jangan....
Humaira          : Kenapa, Sayang?
Farah               : Nanti Alvin Nakalin Farah lagi?
Thariq              : Jangan kuatir. Papa akan membujuk Alvin supaya nggak nakal lagi ke kamu,
                          Sayang.  
Farah               : Benar, Pa?
Thariq              : Iya, Sayang...
Farah               : Papa janji?
Thariq              : Papa janji...
Humaira          : Nah, sekarang jangan menangis lagi, ya. Ayo berangkat ke sekolah. Nanti kamu
                           terlambat.
Thariq              : Ayo...
Humaira          : Sayang. Bilang apa?
Farah               : Farah ke sekolah, Ma (cium tangan) Assalammualaikum…
Thariq              : Papa pergi dulu ya, Ma. Assalammualaikum…
Humaira          : Ya, Pa. Waalaikummussalam…..
Dongdong       : (langsung memotong) Kat…. !
Serentak          : (kecewa) Yah, kok dikat, Dongdong….
Dongdong       : Pak Sutradara Dongdong….
Serentak          : Ya, Pak Sutradara Dongdong. Kenapa dikat !?
Dongdong       : Menurut saya kelen sudah bagus….hehehe….saya pigi dulu….wkwkwkwk (pergi)

DONGDONG BERLALU DENGAN GAYA KHAS SUTRADARANYA. SEPENINGGAL DONGDONG,  ALVIN DAN KAWAN-KAWANNYA MASUK. FARAH DKK, SIBUK MEMBAHAS ADEGAN MEREKA TADI. TIBA-TIBA DI BELAKANG MEREKA TERDENGAR SUARA PASUKAN BARIS BERBARIS, ALVIN DKK, DATANG.

Alvin               : Hoi…minggir…minggir…. Pangeran Alvin yang ganteng ini mau lewat. Rakyat
                          jelata diharap minggir.
Farah               : Hei hati-hati…

FARAH, HUMAIRA DAN THARIQ CUMA MENOLEH KESAL. ALVIN MELEWATI MEREKA DENGAN TERTAWA KERAS. TAHU-TAHU…GUBRAK! KARENA KURANG HATI-HATI, KAKI ALVIN TERPELESET KARENA MENABRAK SESUATU  YANG ADA DI  JALAN.

Humaira          : Rasain kamu! (berteriak). Makanya kalau berjalan  itu hati-hati. Lihat ke depan.
Thariq              : Hore....Makhluk alien jatuh.....
Farah               : Iya. Makanya kalau sama anak perempuan jangan suka nakal. Sekarang kamu kena
                          batunya.….
Alvin               : Aduh…tolong dong. Aku nggak bisa bangun nih?
Humaira          : Ngapain ditolong. Dia kan suka nggangguin kita. Biar tahu rasa sekarang. Lagian,
                           paling dia cuma pura-pura. Nanti kita dikerjain lagi.…
Alvin               : Aduh…aku nggak pura-pura. Kakiku sakit sekali,(merintih) aku janji nggak akan
                          ngerjain kalian lagi.
Farah               : Ditolong yuk, Humaira …
Humaira          : Tapi
Farah               : Sudahlah, kita kan nggak boleh dendam sama orang lain. Bagaimanapun, Alvin kan
                          teman kita juga.….

HUMAIRA MENGANGGUK. KEDUA ANAK ITU LALU MENDEKATI ALVIN. ALVIN KESAKITAN....

Farah               :  Apanya yang sakit, Vin?
Alvin               : (Meringis kesakitan) Aduh…kakiku sakit sekali. Aku nggak kuat berdiri nih.
Farah               : Gini aja Humaira, kamu ke sekolah cari Pak Yan yang jaga sekolah. Pak Yan kan
                          punya kendaraan bermotor. Nanti Alvin biar diantar pulang sama Pak Yan.
                          Sekarang aku di sini menemai Alvin!
Humaira          : Ide yang bagus ….

HUMAIRA SEMANGAT. IA SEGERA BERJALAN CEPAT-CEPAT MENUJU KE TEMPAT PENJAGA SEKOLAH YANG MASIH KELIHATAN DARI TEMPAT ITU.


Alvin               : Farah…(lirih) Maafkan aku ya. Aku sering nggangguin kamu, Humaira, Thariq,
                          dan teman-teman yang lain.
Farah               : Makanya kamu jangan suka ngerjain orang, apalagi mengolok-olok kekurangan
                          mereka. Jangan suka meremehkan anak perempuan. Nyatanya, kamu membutuhkan
                          mereka juga kan?
Alvin               : Iya lah, aku janji nggak akan ngerjain kalian lagi.
Farah               : Lagian  kalau kamu nggak nakal, sahabatmu pasti tambah banyak. Juga, punya
                          banyak sahabat itu menyenangkan kok. Kalau mereka ulang tahun kan kita jadi
                          sering ditraktir, hihihi….

TIDAK BERAPA LAMA DONGDONG DATANG LAGI. KALI INI GAYANYA SEPERTI KEPALA SEKOLAH.

Dongdong       : (Berlagak Kepala Sekolah) Kamu lagi. Kamu lagi.
Alvin               : E, anu, Dongdong...
Dongdong       : (Menghardik) Bapak Kepala Sekolah. Panggil begitu. Mengerti!!
Alvin               : Tapi, ....
Dongdong       : Tidak ada tapi...tapi... mengerti!?
Alvin               : Ya, Dong...eh, Bapak Kepala Sekolah Dongdong....
Dongdong       : Nah, begitu. (Melihat ke Farah) Kamu tidak apa-apa, Farah....
Farah               : Maaf, Pak. Saya tidak apa-apa....
Dongdong       : Benar?
Farah               : Benar, Pak....
Tidak berapa lama Humaira dan Thariq kembali.
Humaira          : Pak Yan, sakit.
Thariq              : Sudah kita gotong aja....
Dongdong       : Ada apa...
Humaira          : Alvin jatuh dari sepeda, Dong...
Thariq              : Iya, Dong....
Dongdong       : Bapak Kepala Sekolah Dongdong. Ngerti! (Humaira dan Thariq mengangguk)
                          Bukannya Alvin yang nakal sama kalian...
Thariq              : Awalnya, ya, Pak....
Humaira          :  Tapi, Alvin sudah minta maaf kok, Pak…
Dongdong       : Betul itu, Alvin?
Alvin               : Iya, Dong, eh...Pak....
Dongdong       : Kamu Andana, Nauval?
Andana           : Saya juga, Pak...
Nauval             : Saya menyesal, Pak....
Dongdong       : Syukurlah. Lebih baik berteman daripada bermusuhan, ya?!
Semua             : Ya, Bapak Kepala Sekolah Dongdong......

PERLAHAN MUSIK SAYUP-SAYUP PELAN. BERSAMAAN DENGAN  ITU LAMPU PERLAHAN REDUP. DI TENGAH-TENGAH PANGGUNG SESEORANG SEDANG DUDUK DI KURSI. LAMPU KEMUDIAN PADAM.

SELESAI

Komunitas Home Poetry, 2015